Peristiwa nahas yang melibatkan kereta api dan truk pengangkut BBM di Bintaro mengingatkan kembali akan pentingnya fungsi penjaga palang pintu kereta. Dari pengamatan detikcom, banyak area perlintasan yang belum ditangani secara resmi oleh PT KAI, khususnya di jalur kereta Bogor-Jakarta.
Seperti dari penelusuran beberapa jalur perlintasan kereta di wilayah Citayam- Depok. Di kawasan ini, ada puluhan perlintasan yang dijaga secara swadaya oleh masyarakat. Tak ada sirene yang mendapat sinyal secara otomatis seperti halnya perlintasan yang dikelola oleh PT KAI pada umumnya. Sebaliknya, palang pintu itu diturunkan secara manual.
Pengamatan terhadap kereta pun dilakukan secara manual dengan mengandalkan indra mata. “Harus benar-benar waspada, karena ini kan menyangkut nyawa orang. Kita enggak bisa sembarangan,” kata Sahal, 32 tahun, penjaga palang perlintasan kereta di Jalan Bojong Pondok Terong-Jalan Raya Citayam, Depok.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Stooopppp,” Sahal tiba-tiba berteriak lantang pada sopir mobil pikap. Sopir itu manut lalu memundurkan mobilnya yang sudah setengah masuk ke perlintasan, meski kereta masih belum kelihatan. Mereka memang sudah lebih percaya pada para penjaga palang. Pelan-pelan Sahal kemudian menarik tali tambang warna biru kehijauan hingga menutup jalan.
Adanya katrol membuat Sahal hanya perlu menarik tambang dan secara otomatis menutup palang besi. Tali tambang dan besi itu terbilang efektif karena menutup semua badan jalan, sehingga tak ada kesempatan bagi pengendara untuk menyerobot jika palang telah diturunkan.
Brumm… beberapa menit kemudian, kereta commuter jurusan Bogor-Jakarta pun melintas. Sahal memicingkan mata kemudian mengamati jalur kereta dari arah Jakarta. Setelah memastikan belum ada tanda kereta mendekat, dia sigap melepas tali tambang, yang terhubung dengan palang besi sepanjang tiga meter di seberangnya.
Sahal kembali mengatur arus kendaraan, mulai dari motor, mobil pribadi, angkot hingga truk. “Ayo lanjutttt. Terus. Oke bos. Makasih.. haha...” kata dia lantang sembari tetap tersenyum pada pengendara. Beberapa pengendara pun mengklakson sambil menyelipkan uang recehan ke tangan kanan Sahal.
Pungutan itu sifatnya sukarela dan digunakan untuk membayar tenaga para penjaga palang pintu. Ada juga pengendara yang hanya melempar senyum seraya menyapa Sahal. Tak sedikit juga pengendara yang cuek begitu melintas di depan Sahal.
“Ini kan jasa, berapa saja bisa. Uangnya untuk pendapatan per orangan yang berjaga, karena kita enggak ada yang gaji, masyarakat yang lewat doang,” kata dia di sela-sela tugasnya sembari menyeka air yang membasahi dahinya akibat rintik hujan.
Meski terlihat ringan, pekerjaan tersebut tak bisa dipandang sebelah mata. Apalagi intensitas kendaraan yang melewati perlintasan juga sangat tinggi dan mencakup semua jenis kendaraan. Sahal dan kawan-kawan "seperjuangan" harus mensterilkan jalur ketika kereta melintas agar tak terjadi kecelakaan yang bersifat sangat fatal.











































