Kalangan politikus berlatar belakang artis juga masih dianggap belum mampu menunjukkan kemampuannya bersaing dengan politisi dari kalangan nonartis.
Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Gun Gun Heryanto memberi tiga catatan agar politikus dari kalangan selebriti tak hanya menjadi kelompok "penderita" atau pendulang suara dan pemanis saja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Jangan beranggapan popularitas yang dimiliki bisa dengan mudah menjadi faktor yang menentukan kemenangan. Artinya, tidak semua artis yang punya popularitas itu kemudian punya elektabilitas,” kata Gun Gun kepada detikcom, Selasa (10/12).
Kedua, jika artis memang serius ingin jadi caleg atau kepala daerah untuk konteks 2014, maka harus punya kapasitas dan menyiapkan diri. Misalnya dengan banyak membaca dan belajar. Pasalnya, setelah jadi legislator, bukan lagi masanya belajar atau learning by doing, tapi memang harus menjadi wakil dari sekian juta orang di daerah pemilihannya.
“Kalau dia gak siap maka seperti kejadian 2009-2014, banyak artis yang kemudian hanya duduk diam mendengar tapi dia tidak punya kapabilitas untuk bicara termasuk di leading sektor komisinya."
Catatan ketiga, lanjut Gun Gun, yakni seorang caleg sebaiknya jangan tiba-tiba melompat ke dalam partai ketika sudah menjelang pemilihan, melainkan menjadi kader partai sungguhan. Kanalisasi sumber daya manusia pada partai berbasis kader, dengan tiga tahapan, yakni perekrutan, pembinaan loyalis, dan distribusi ke dalam jabatan publik.
“Jadi caleg jangan memposisikan partai sebagai kendaraan sesaat. Partai juga harus berpikir sama, artinya harus mendistribusikan dan mengalokasikan kader loyal mereka, bukannya politisi yang karbitan jadi caleg dan membuat mereka jadi mobil rentalan,” paparnya.
Dia menambahkan, untuk nama-nama artis yang baru mendaftar pada periode ini, kapasitas juga akan jadi pertimbangan khusus. “Misalnya Angel Lelga, orang akan melihat historisitas berjenjangnya, apakah dia termasuk kategori calon yang mumpuni. Kalau misalnya kapasitas personal, sosial, profesionalnya tidak mumpuni, saya kira orang-orang justru akan mencibir itu,” kata dia.
Sementara itu menjadi caleg adalah keinginan Ikang Fawzi untuk bisa membenahi persoalan di sektor infrastruktur pembangunan yang belum merata. Penyanyi dan pebisnis properti ini menegaskan yang terpenting adalah bisa mendengar serta memperjuangkan aspirasi rakyat menyesuaikan kebutuhan.
Pria kelahiran Jakarta, 23 Oktober 1959 ini mengaku sejak tahun 1998 sudah menjadi kader Partai Amanat Nasional. Meski tidak aktif, menurut Ikang, ia terus memperhatikan persoalan politik di Tanah Air.
"Saya tidak mau menjadi obyek politik. Kalau diam saja, kita akan jadi obyek politik. Apa pun risikonya kita harus berjuang dong," kata Ikang kepada detikcom, Rabu (11/12).
(/)










































