Testimoni Penumpang untuk Tarnedi, dari Polwan Hingga Politisi

Sopir Taksi Berbahasa Inggris

Testimoni Penumpang untuk Tarnedi, dari Polwan Hingga Politisi

Prins David Saut - detikNews
Kamis, 12 Des 2013 15:11 WIB
Testimoni Penumpang untuk Tarnedi, dari Polwan Hingga Politisi
Jakarta - Tidak hanya meminta penumpang berkomunikasi dengan bahasa Inggris, Tarnedi (54) meminta
mereka menulis secarik surat dalam bahasa Inggris untuknya. 'Testimoni' penumpang bagai menjadi cambuk Tarnedi untuk terus cas cis cus berbahasa Inggris.

Pengamatan detikcom, Kamis (4/12/2013), Tarnedi mengeluarkan box ukuran 30 x 50 cm berisi buku dan kertas-kertas saat berada ditemui di kontrakannya di Jalan Jati Kramat, Pondok Gede, Kota Bekasi, Jawa Barat.

Ia mengeluarkan notes yang berisi 'testimoni' para penumpang taksinya. NF, seorang polisi wanita menuliskan secarik kesannya tentang Tarnedi. Ia menumpang taksi Tarnedi pada 2 Oktober 2012.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dear Mr Tarnedi, I am one of the many female police officer serving in Jakarta. I am comfortable in your taksi. I was not wrong to choice taxi.

As old at your age, you are still eager to make a living and you are still eager to learn the English Language with your passanger. I hope you can fit the spirit of it. Best regards, NF.

Mita, penumpang dari warga negara asing juga menyisipkan tulisan.

You are always seeing extraordinary. But the truth is you are the extraordinary one.
So, dont judge book by is cover.

Ratri, seorang mahasiswi ikut menuliskan 'testimoninya'.

I always remember your advice, I will not marry before graduade.

Ia pun menuliskan sebuah pepatah: To be yourself in a world that is trying to make you someone else is the great accomplishment.

Tarnedi mengatakan pesan-pesan para penumpangnya itu kemudian diterjemahkannya. Ia juga menujukkan kamus pemberian penumpangnya, Andrea dan Ricky, pada tahun 2012.

"Saya juga minta penumpang saya menulis bahasa Inggris. Nanti di rumah saya artiin. Karena saya juga dapat kamus bahasa Inggris dari penumpang saya, dikasih," kata Tarnedi.

"Saya pernah bawa profesor, politisi di DPR, polisi juga pernah. Yang politisi malah bilang, supaya terus belajar, nggak usah malu apa kata orang. Sudah lama, tetapi dia juga nggak ninggalin catatan kayak gini," ujar pria lulusan SD ini yang lupa nama politisi yang dimaksudnya itu.





(aan/mad)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini