"Apa gunanya bertanya bercanda apapun alasannya. Nggak mutu lagi," ujar pengamat psikologi politik Hamdi Muluk kepada detikcom, Kamis (12/12/2013).
"Saya berharap fit and proper test pertanyaan yang berlevel dong," imbuhnya.
Hamdi menilai, kadangkala seseorang akan tersinggung jika pertanyaanya tidak sesuai dengan bidang yang ditekuninya. Pertanyaan yang tidak substantif itu malah akan berkesan melecehkan.
"Artinya harus relevan karena terkait jabatan publik," terangnya.
Selama ini, Hamdi menilai seringkali anggota DPR melakukan uji kepatutan dengan pertanyaan yang arogan dan seenaknya. "Dia punya kekuasaan," ujarnya.
Terkait laporan Komnas Perempuan itu, Hamdi menilai laporan itu sangatlah wajar dan masuk dalam kategori pelecehan meski tidak vulgar.
"Memang harus diakui artinya tidak semua anggota dewan bermutu ternyata. Harusnya dilakukan fit dan poper tes yang bagus," kata Hamdi.
(tfq/fdn)











































