Kamus itu bukanlah buku tebal ratusan halaman seperti yang digunakan orang kebanyakan. Dia hanya bermodal lembaran kertas kuning yang bisa ditempel atau biasa disebut post it paper.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di kertas-kertas memo itu, Tarnedi menuliskan setiap kata atau ungkapan yang dia pelajari setiap hari. Tak lupa, dia juga mencantumkan artinya dalam bahasa Indonesia.
"Misalnya ini saya baru nulis sibling, saya baru dikasih tahu tadi artinya saudara kandung. Setiap saya mau ngomong itu kalau lupa lihat catetan ini," kata ayah dua anak ini sambil menunjukkan lembaran-lembaran kecil itu saat berbincang dengan detikcom di mobil taksinya, Rabu (11/12/2013).
Di lembaran itu juga terdapat ungkapan lain yang biasa digunakan untuk percakapan sehari-sehari seorang sopir taksi dan pelanggannya. Misalnya "good afternoon", "are you in a hurry?", "don't forget your belongings" dan lainnya.
Menurut Tarnedi, kertas itu sangat membantunya dalam menguasai kosakata baru setiap hari. Semua ilmu baru yang dia dapat sehari, akan dia praktikkan keesokan harinya pada para penumpang, tentu dengan pelafalan khas Tarnedi sendiri.
"Kalau logat Jawa Indramayu saya susah diubahnya, Bro..." ucapnya sambil tertawa.
Selain kamus kecil itu, Tarnedi juga punya sejumlah buku bahasa Inggris dan kamus tebal. Namun itu dia simpan di rumah kontrakannya di kawasan Bekasi, Jabar. Buku-buku itu sebagian besar adalah hadiah dari para penumpang yang kerap menggunakan jasanya.
"Pokoknya para penumpang saya banyak yang bantuin, saya sangat beruntung," kata pria yang sudah hidup di Jakarta sejak tahun 1979 ini.
(mad/nwk)











































