"Good afternoon..." salam yang selalu diucapkan Tarnedi (54), sopir taksi Express, kepada setiap penumpangnya. Ya, dia tak segan mengajak semua pelanggannya untuk bicara bahasa asing itu. Tujuannya: untuk belajar lebih baik.
detikcom jalan-jalan dengan Tarnedi menyusuri jalanan Jakarta Selatan, Rabu (11/12/2013) sore. Ayah dua anak itu cas-cis-cus sepanjang perjalanan berbahasa Inggris. Padahal, dia tak pernah belajar secara formal sebelumnya.
"I didn't graduate from elementary school, Bro...," ucap Tarnedi saat ditanya pendidikan terakhirnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sehari saya belajar dua kosakata. Misalnya dulu ada ibu Yuli pelanggan saya. Saya bilang, bu gimana caranya bilang selamat pagi sama mau ke mana. Dia kasih tahu good morning dan where are you going," terangnya.
Berbekal dua kalimat itu, dia menarik perhatian para penumpang. Ilmu pengetahuan Tarnedi pun semakin hari kian bertambah. Kini, dia sudah bisa diskusi soal kemacetan Jakarta, hingga kebijakan pemerintahan Gubernur DKI Joko Widodo.
"What do you think about traffic jam in Jakarta?" tanyanya.
"What should government do? Should they limit motorcycle and car? But I think Jakarta people is difficult," begitu ucapannya.
Menurut pria asal Indramayu, Jabar, ini belajar bahasa Inggris sudah jadi kebutuhan hidup. Dia merasakan sendiri begitu banyaknya turis asing yang ada di Jakarta. Dalam waktu beberapa tahun ke depan, dia yakin ilmu ini akan sangat penting.
"10 Tahun lagi kalau sopir taksi tidak bisa bahasa Inggris, pasti harus pulang kampung karena kalah bersaing," ceritanya sambil membelah jalanan.
Respons para penumpang terhadap keinginan kuat Tarnedi untuk belajar pun cukup baik. Hampir semua mau mengajarkannya kosakata baru. Bahkan ada yang memberinya buku hingga kamus bahasa Inggris.
"I have commitment, whoever taking my taxi I will greeting in English. My customer very admire me," ucap pria yang tinggal di kontrakan ini sambil tertawa.
(mad/nwk)











































