Muktamar NU di Boyolali Dinilai Tidak Aspiratif
Rabu, 24 Nov 2004 16:06 WIB
Solo - Muktamar NU ke-31 di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, dinilai tidak aspiratif karena tidak menyediakan tempat khusus bagi warga NU yang berada di luar struktur kepengurusan. Bahkan ada yang menilai panitia merancang untuk memenangkan seorang calon, terbukti para kiai yang berseberangan tidak diundang."Selama saya mengikuti Muktamar NU sejak di Situbondo tahun 1984 hingga muktamar di Cipasung, panitia selalu menyediakan tempat bagi warga NU di luar struktural dari berbagai profesi untuk memperbincangkan berbagai hal," ujar HM Dian Nafi', kader muda NU di Solo, Rabu (24/11/2004)."Pada muktamar Lirboyo, fasilitas itu ditiadakan oleh panitia. Saat itu menimbulkan persoalan yang akhirnya pada warga NU kultural ini menyewa rumah di dekat lokasi, sehingga ada yang menyebut sebagai muktamar tandingan. Seharusnya panitia muktamar kali ini tidak mengulanginya," lanjutnya.Dipaparkan oleh Dian Nafi' bahwa acara perbincangan itu biasanya diikuti oleh pengamat, aktivis muda, mahasiswa, peneliti, pekerja LSM, hingga kaum profesional yang menjadi simpatisan NU. Karenanya materi pembicaraan mencakup bahasan yang cukup luas dan sangat penting untuk progres warga NU.Sementara itu, Nahdliyyin Crisis Centre (NCC) yang didirikan oleh warga NU dari berbagai kota telah memantapkan diri untuk menjadi 'pengawas' jalannya muktamar yang mereka sebut sebagai muktamar paling politis sepanjang sejarah NU. Mereka telah menyewa sebuah rumah di dekat arena muktamar.Koordinator NCC, Jazuli A Kasmani mengatakan, selama muktamar berlangsung, NCC setiap hari akan menerbitkan jurnal perkembangan muktamar. Selain itu juga akan menyiarkan perkembangan melalui radio, diskusi, sarasehan, bedah buku, happening art, pentas seni, pemutaran film dan kegiatan lainnya. Inti dari semuia kegiatan adalah mengajak semua warga NU megembalikan NU ke khittah 1926.NCC ini memang dimotori oleh generasi muda NU yang sejak awal menentang politisasi NU. Sikap ini lalu dinilai sebagai sikap anti-Hasyim. Ujungnya, ketika mereka menggelar Mubes Warga NU di Cirebon Oktober lalu, PBNU yang didominasi kekuatan pro-Hasyim menyebut acara itu sebagai kegiatan liar.Lebih lanjut, Jazuli juga menyayangkan panitia yang tidak mengundang para kiai kultural NU dalam muktamar, atau setidaknya saat pembukaan. "Saya dapat informasi para kiai berpengaruh yang tidak sepaham dengan panitia dalam hal pencalonan ketua umum, tidak diundang. Ini tidak pantas dilakukan oleh panitia," ujar Wakil Katib Syuriah PCNU Klaten tersebut.Pihak panitia lokal mengaku tidak tahu-menahu saat ditanya mengenai tempat khusus ajang pertemuan warga NU non-struktural maupun tentang udangan bagi para kiai. Menurut mereka semua yang menentukan adalah panitia pusat yang dibentuk oleh PBNU.
(asy/)











































