Politisi dari kalangan artis masih dianggap tak bisa diandalkan dalam menjalankan fungsinya sebagai wakil rakyat. Pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Arbi Sanit menilai dari segi kemampuan berpolitik, selebriti yang pindah haluan menjadi politisi kurang mumpuni. Itu sebabnya, dari sekian banyak artis yang duduk menjadi anggota parlemen, lebih banyak yang "tiarap" dari pada yang benar-benar vokal.
“Sudah pasti (kemampuan berpolitiknya) kurang (bisa diandalkan), karena dunia politik dan artis itu berbeda, sekalipun misalnya sama-sama manipulasi. Artis kan berpura-pura jadi obyek yang diperankan, sementara politisi pura-pura mewakili rakyat, sebetulnya sama-sama bohong dan menipu,” kata Arbi kepada detikcom, Selasa (10/12).
Arbi menyindir kesamaan antara politisi dan kalangan artis yang dianggapnya sama-sama menipu, tapi beda bidang dan keahlian. “Keahlian artis hanya tipu dalam bentuk penampilan bukan tipu dalam mengakali kepentingan rakyat. Sedangkan politisi keahliannya mengakali itu. Begitu juga urusannya, artis itu kan membikin tren, sedangkan politisi keahliannya bermain-main dengan kebijakan.”
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Adapun persoalan intelektualitas caleg artis sebenarnya dianggap tidak berbeda dengan caleg dari kalangan lain. Hanya saja, mereka dinilai sulit bermetamorfosis menjadi politisi profesional karena perbedaan bidang yang sesungguhnya perlu dipelajari dan didalami.
Artinya, caleg artis sedianya mempersiapkan diri dengan pindah haluan secara berangsur-angsur, alih-alih berpindah tiba-tiba alias loncat kodok dari dunia hiburan ke dunia politik.
Walau kemampuan politik caleg artis masih dipandang sebelah mata, tak bisa ditampik dalam kontestasi pemilu yang akan datang jumlah caleg artis masih tetap banyak. Menurut Arbi, ada alasan kuat yang membuat partai tetap berlomba mengusung caleg dari kalangan selebriti.
“Ini persoalan kader partai yang popularitasnya jauh di bawah artis. Masalahnya partai tidak punya calon yang sepopuler artis yang siap dimajukan, dibanding calon yang bukan artis yang akan dimajukan ya lebih baik yang artis kan. Jadi hanya mencari popularitas,” kata dia.
Arbi menjelaskan kaderisasi yang mandek ditambah kader yang pasif membuat kegiatan kader-kader partai tidak menonjol di dalam masyarakat. Artis yang sudah dikenal masyarakat pun dianggap masih bisa efektif menjadi katrol untuk mendulang suara.
“Masyarakat sudah lebih pintar tapi kecermatannya belum cukup untuk menilai artis itu lebih dalam. Bisa saja masyarakat kritis tapi ketika dia dalam bilik suara dan hanya mengenal artis-artis dibanding calon lain, ya mereka akan pilih si artis.”
(brn/brn)











































