Pembunuhan Orangutan di Kalimantan Barat (Kalbar) yang sempat mencuat beberapa waktu lalu jadi sorotan dunia internasional. Pemerintah diharapkan bisa menghentikannya untuk melindungi populasi satwa primata tersebut.
Peneliti Orangutan asal Universitas York di Toronto, Kanada, Profesor Anne E Russon, sempat memperhatikan pemberitaan Orangutan yang dibunuh dan dijadikan santapan warga setempat di Kalbar.
"Ini isu internasional. Saya harapkan ini dihentikan, disetop!" kata Anne kepada detikcom dan media lainnya peserta kegiatan 'Journalist Trip to TNK' yang berlangsung di Hutan Prefab, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, Minggu (8/12/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama meneliti di Kalimantan, dia juga mengamati perilaku warga setempat yang menjadi wilayah penelitiannya. Anne berkesimpulan sejumlah kelompok tertentu mengonsumsi daging satwa liar untuk bertahan hidup.
"Termasuk mengonsumsi daging Orangutan, ada beberapa kelompok masyarakat yang mengonsumsinya," ujar Anne.
"Termasuk konflik dengan perusahaan-perusahaan yang berada di sekitar habitat Orangutan. Karena kekurangan pakan, Orangutan mengambilnya di area perusahaan," tambahnya.
Anne berpendapat, meski menghentikan perilaku kelompok masyarakat tertentu yang menyantap Orangutan agak sulit dihentikan, setidaknya upaya pemerintah bersama seluruh elemen terus berupaya melakukan upaya penghentian tersebut.
"Menyantap Orangutan ini seperti sudah budaya. Ada sekelompok masyarakat yang mungkin sangat miskin sekali. Untuk bertahan hidup, mereka terpaksa menyantap daging satwa yang dilindungi dunia seperti Orangutan," jelasnya.
Dua orang Panca Bhakti di Pontianak, Kalbar, sempat ditangkap petugas Polda Kalbar atas permintaan BKSDA Kalbar. Keduanya diduga membunuh Orangutan dan menjadikan daging Orangutan sebagai masakan rica-rica untuk disantap. Meski akhirnya dalam peradilan baru-baru ini keduanya dinilai tidak terbukti membunuh Orangutan.
(tor/tor)











































