"Keris ini bahannya campuran dari besi, baja, nikel, dan batu meteorit yang berasal dari Afrika," kata penjaga pameran, Beni, kepada detikcom, Sabtu (6/12/2013).
Menurutnya, perkembangan jaman mendorong para pengrajin keris untuk terus berkreasi. Sebelumnya, para 'empu' ini hanya mengenal nikel sebagai campuran besi dan baja. Mereka lalu menelaah bahan dasar keris warisan masa lampau dan kemudian mencoba memakai batu meteorit sebagai campuran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Proses pembuatan keris meteorit tidak berbeda dengan proses pembuatan keris biasa. Batu meteorit yang bentuknya sudah butiran dilebur bersama besi dan baja hingga membentuk pamor (motif) yang diinginkan. Hasilnya, keris berbahan meteorit lebih harmonis daripada yang berbahan campuran nikel.
Beni menuturkan bahwa keris meteorit sudah cukup populer di mancanegara. Di Indonesia sendiri, para pengrajin baru mencoba berkreasi dengan batu dari luar angkasa ini mulai 2010. Ia juga mengakui bahwa harga keris unik ini cukup tinggi.
"Kisaran ada di Rp 10-15 juta. Sekitar 3 kali lebih mahal dari keris biasa," tambah pria asli Jawa Tengah ini.
Ada 4 keris meteorit yang dipamerkan bersama 145 senjata tradisional lainnya di World Royal Heritage atau Festival Keraton Se-Dunia di Monas. Acara ini masih akan berlangsung hingga Minggu (8/12/2013) dan ditutup dengan kirab budaya mengelilingi Monas.
(mad/mad)











































