"Dia (Tomy) pernah ke sini. Tapi jarang juga sih, terkadang sebulan dua kali datang untuk menjemput Ibu Heny," ujar petugas keamanan kos-kosan, Syam kepada detikcom, Jumat (6/12/2013).
Saat datang, Tomy sering masuk ke kamar Tante Heny. Selain itu Tomy juga sering memberinya tip alias uang rokok.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di kos-kosan bertarif Rp 2,7 hingga Rp 3 juta tersebut, telah dibuat peraturan tamu lelaki hanya boleh ditemui di lobi atau ruang tamu. Apabila ada yang ingin masuk kamar, pintu harus dibiarkan terbuka.
Namun hal tersebut mungkin tak terjadi saat peristiwa pembunuhan Tante Heny pada 30 Oktober lalu, saat Tomy menusuk korban berkali-kali di dalam kamar kosnya. Tak diketahui juga bagaimana Tomy membawa keluar koper yang berisi mayat Tante Heny dari kos-kosan tersebut.
"Kalau terbuka, pasti ada yang lihat, minimal mendengar suara teriakan. Tapi saat itu mungkin (pintu kamar) ditutup," ungkapnya.
Setelah tertangkap, belakangan pelaku Tomy mengaku spontan membunuh Tante Heny. Terapis di salah satu tempat pijat refleksi di salah satu Mal di Jakarta Selatan tersebut mengaku emosi karena Tante Heny mengancam akan melaporkannya ke polisi.
"Dia ancam saya mau melaporkan ke polisi karena sudah melecehkan dia, memijat di luar tempat kerja," ujar Tomy di Mapolda Metro Jaya.
(rni/mok)











































