"Dunia kehilangan jembatan yang menghubungkan banyak dunia. Generasi lama yang penuh kebencian dan kekerasan, dijembatani menuju generasi baru yang demokratis dan cinta damai. Dari Afrika yang identik dengan kemiskinan dan keterbelakangan, dihantarkan menjadi simbol kemajuan dan kesetaraan dengan pusat-pusat kemajuan dunia. Lihat kesuksesan Piala Dunia 2010. Itulah Mandela," ujar Anis Matta mengenang sepak terjang Mandela, dalam siaran pers, Jumat (6/12/2013).
Indonesia punya keterkaitan sejarah dan budaya yang panjang. Menurut Anis Matta, literatur sejarah mencatat Islam datang ke Afrika Selatan dibawa oleh Syekh Yusuf dari Bugis yang diasingkan oleh penjajah Belanda pada 1693. Syekh Yusuf kemudian dianggap sebagai bapak komunitas muslim dan budaya Melayu dari Indonesia di semenanjung selatan benua Afrika itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi Anis, figur Mandela mirip dengan para pendiri bangsa Indonesia. Sebagai anak kepala suku, Mandela bisa saja berkompromi dan menikmati previlege dari status sosialnya. Tapi Mandela memilih untuk berjuang memerdekakan bangsanya dari penjajahan dan diskriminasi rasial.
"Ia dipenjara dan hidup sengsara. Sama seperti para pencetus Sumpah Pemuda," papar Anis.
Sebagai kalangan terdidik, para pencetus Sumpah Pemuda 1928 itu bisa saja menjadi birokrat dalam pemerintahan kolonial Belanda dan hidup makmur. Tapi mereka memilih untuk berjuang, memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan. "Ini pelajaran sejarah universal yang kita pelajari dari Mandela," sambungnya.
"Kita semua kehilangan Mandela. Dialah tokoh yang dilahirkan oleh sejarah, dunia berduka atas kepergiannya. Warisannya tentang rekonsiliasi dan pemaafan menyumbang kekayaan khazanah demokrasi di dunia," tutup Anis
(van/nrl)











































