Kisah Warga Ciliwung yang Tak Kapok Diterjang Banjir

Jakarta Menghadang Banjir

Kisah Warga Ciliwung yang Tak Kapok Diterjang Banjir

Hardani Triyoga - detikNews
Jumat, 06 Des 2013 13:59 WIB
Kisah Warga Ciliwung yang Tak Kapok Diterjang Banjir
Banjir di salah satu kawasan di Jakarta. (foto - detikcom)
Jakarta -

Senin sore (2/12) lalu, Hasanudin sedang asyik berbincang dengan istrinya di balai warung kopi miliknya di atas bantaran Kali Ciliwung. Sambil menyeduh kopi dengan sebatang rokok di tangan, warga Kampung Melayu, Jakarta Timur ini mengingat musibah pahit yang terjadi pada 2007 lalu.

Musibah yang terjadi bulan Februari enam tahun lalu itu tak bisa dilupakan dari ingatan pria 51 tahun ini. Kata-katanya tertahan saat ditanya kejadian banjir besar yang melanda Jakarta ketika itu. Elsa Novianti anak perempuannya yang baru berusia 1 tahun enam bulan meninggal dunia karena muntaber akibat dampak banjir.

Upaya membawa ke rumah sakit hingga dirawat inap selama dua pekan tak mampu menyelamatkan Elsa. Takdir kehilangan putri kecilnya harus membuatnya ikhlas. “Pahit kalau diingat (meninggalnya Elsa),” kata pria yang akrab disapa Udin ini saat ditemui detikcom, Senin lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



Memiliki tempat tinggal yang menjadi langganan banjir hampir setiap tahun bukanlah pilihan bagi Udin dan sekeluarga. Tapi, karena sudah puluhan tahun menetap dan memiliki anak, pikiran ingin pindah ke daerah lain dilupakan. Belum lagi keakraban dengan tetangga yang sama senasib menjadi korban banjir.

“Kalau banjir sudah jadi teman. Yang penting di sini aman, banyak tetangga yang seperti saudara sendiri,” kata ayah empat anak ini.

Udin yang tinggal di RT 13/03 Kampung Pulo, Kampung Melayu, Jatinegara ini mengaku terpenting adalah mempersiapkan seluruh keluarga agar selamat dari musibah banjir. Pengalaman pahit enam tahun lalu yang terlambat mengungsi membuatnya intropeksi.

Perlengkapan kecil menghadapi banjir sudah disiapkan. Ban pelampung hingga bedeng lantai dua dipersiapkan untuk mengantisipasi datangnya banjir musiman. “Kami kemarin Lebaran Idul Fitri lebaran di bedeng kayu, lantai dua. Gitu aja kalau banjir. Lewat dua meter lebih, kita ngungsi ke posko,” katanya.

Soal rencana relokasi yang diinginkan Pemerintah Provinsi DKI, Udin berharap ada ganti rugi yang sepadan sesuai dengan kepemilikan rumahnya. Ia tidak masalah kalau nanti harus mendaftar di rumah susun sederhana sewa (rusunawa) atau membeli rumah di daerah lain. Asalkan, ada keuntungan yang diperoleh warga dari upaya relokasi.

“Ini kan program pemerintah. Kita enggak bakal bisa nolak. Cuma itu yang ganti rugi yang sesuai. Sekarang kan belum jelas,” kata Udin.

Ketua RT 13/03 Kampung Melayu, Endin Syaefudin berharap program relokasi warga di bantaran Kali Ciliwung tidak merugikan masyarakat. Sejauh ini, warga masih bingung terkait rencana sosialisasi ganti rugi dari program relokasi tersebut.

Apalagi setelah direlokasi, warga akan mengalami kesulitan mencari pekerjaan baru. Selama ini warga Kampung sebagian besar berprofesi sebagai pedagang di pasar dan buruh. “Mereka bukan tiga, empat tahun di sini. Tapi, sudah mengakar sampai punya cucu dan cicit. Ya makanya kalau dipindahin yang nguntungin buat mereka,” kata Endin.

(erd/erd)


Berita Terkait