Mahalnya Demokrasi

Caleg Pengusaha: Tuak, Potong Babi, Makan, dan Urusan Selesai

- detikNews
Jumat, 06 Des 2013 10:37 WIB
Jakarta - Para calon legislatif (caleg) DPR menganggap masyarakat sudah pragmatis. Asal perut kenyang rakyat bakal memilihnya.

Hal tersebut terungkap dalam buku 'Mahalnya Demokrasi Memudarnya Komunikasi' karya Pramono Anung yang dikutip detikcom, Jumat (6/12/2013). Seorang caleg pengusaha yang memberikan testimoni ke Pramono membuka rahasia cara kampanyenya di daerah Indonesia Timur.

"Jadi contoh Manado, Ambon, NTT, Papua, itu kulturnya hampir sama. Budayanya makan daging dan minum tuak dan nyanyi. Di dalam kampanye kita itu yang tidak bisa kita tinggalkan organ tunggal engan aki," kata caleg pengusaha berinisial SS tersebut.

Organ tunggal lengkap dengan dua penyanyi cantik disiapkan untuk menghimpun massa. Sedangkan tuak disiapkan sebagai alat 'komunikasi'.

"Tuak dan sirih pinang istilahnya," katanya.

Di daerah tertentu, menurut pengusaha tersebut, tuak dan sekotak sirih pinang menjadi bahasa adat sebagai saudara. Budaya itu dinilainya efektif walaupun uang yang dibutuhkan tidak sedikit.

"Itu artinya keuntungannya adalah masyarakat cenderung berpikirnya ringkas, pragmatis. Bawa tuak, potong ayam, potong babi, makan, dan urusan selesai. Itu sudah janji adat bahwa dia akan memilih kita," akunya.

(van/nrl)