"Aaah.. Iwan itu kalau duit saja mau. Sekarang kita digusur," kata pedagang kaos di Monas, Kholik saat ditemui detikcom di kawasan Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (5/12/2013).
Kholik mengaku terkena alat setrum bahkan dikeroyok oleh satpol PP yang akan menertibkannya. Karena merasa terdesak, ia bersama puluhan PKL akhirnya melempari satpol PP dengan batu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejumlah PKL mengaku kerap menyetor uang pada oknum satpol PP yang berjaga di kawasan Monas. Jumlah setoran mereka disesuaikan dengan jualan mereka.
"Saya karena jualan baju jadi kadang kasihnya Rp 30 ribu. Kalau yang (jual) skuter lebih mahal lagi," lanjutnya.
Saat ditanya pada siapa mereka menyetor, Kholik dan beberapa rekannya menyebut nama Iwan dengan status sebagai koordinator anggota satpol PP yang berjaga di Monas.
"Ya ke Iwan. Dia semacam kepalanya di sini," terangnya.
Ketika dikonfirmasi, Kepala Satpol PP Pemprov DKI Kukuh Hadi justru menantang para PKL untuk mengungkap oknum tersebut.
"Kalau benar ada, ayo mereka tunjukkan. Kasih lihat saya indentitasnya siapa. Catat namanya," kata Kukuh saat ditemui di kawasan Monas, Jakarta Pusat, Kamis (5(12(2013).
Ia mengaku alasan PKL yang mengaku dimintai uang adalah alasan klasik. Karena itu ia meminta bukti atas tuduhan tersebut.
"Nggak usah banyak ngomong. Buktikan. Tunjukkan dan laporkan. Dia (PKL) juga salah karena dia berdagang," terangnya.
Ia mengatakan jika sanksi tegas akan diberikan jika ada satpol PP yang terbukti meminta pungli pada PKL. Teguran tersebut berjenjang mulai dari teguran hingga pemecatan.
"Kalau perlu kita kirim ke Kepulauan Seribu. Hukumannya hukuman psikis," candanya.
Sedangkan untuk penyetruman, Kukuh membantah ada anak buahnya yang membawa alat setrum saat melakukan penertiban.
"Tidak ada yang pakai strumer (alat setrum-red). Saya ada di lokasi saat penertiban. Yang ada anak buah saya 2 orang bocor kepalanya," kata Kukuh.
(bil/nwk)











































