Kisah Para Penemu Muda

Corong dan Selang Hemat Air untuk Siram Tanaman Buatan Anak SMA

- detikNews
Senin, 02 Des 2013 18:08 WIB
(Foto: Brahmantio dan Ikhlas)
Jakarta - Awalnya 2 siswa SMA 6 Yogyakarta ini disuruh ibunya menyiram tanaman di halaman rumah, dan merasa sayang karena banyak air yang terbuang. Mereka lantas membuat alat yang membuat air lebih efektif terserap ke dalam tanah. Seperti apa sih?

"Awalnya saya disuruh ibu sirami tanaman, waktu saya siram itu kok kaya buang-buang air percuma, semprotin di atas tanaman. Rugi air dan listrik kan," kata Brahmantio Taufan Anata Putra ketika dihubungi detikcom, Senin (2/12/2013).

Lantas Brahmantio terpikir membuat alat agar air itu tidak terbuang percuma. Bersama temannya Ikhlas Satriaryo Budi Ismoyo, dua siswa kelas 11 IPA SMAN 6 Yogyakarta ini lantas merancang alat yang sangat sederhana tapi mungkin tak pernah terpikirkan oleh Anda.

Idenya, selang yang terbiasa di pakai menyiram itu dipotong 10-20 cm. Kemudian ditancapkan ke tanah di dekat tanaman, atau membuat lubang kecil. Di atasnya dipasang corong. Dan, silakan menyiram di atas corong itu. Airpun langsung masuk ke tanah.

"Air akan terserap optimal ke dalam tanah, jadi nggak boros kan?" kata Brahmantio.

Alat ini sangat portabel karena bisa dibongkar pasang. Kemudian selain untuk mengairi tanaman, bisa juga dipakai untuk pupuk.

"Jadi kalau pupuk kan biasanya terkonsentrasi di satu titik. Nah dengan alat ini, pupuknya bisa dicairkan terus disiramkan ke atas corong langsung masuk ke tanah," imbuh remaja kelahiran Sleman, 17 Januari 1997 ini.

Alat ciptaannya ini dipamerkan di ajang National Young Inventor Award 2013 di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 14-15 November 2013 lalu karena berhasil menjadi finalis. Brahmantio mengaku dari mencari ide hingga membuat alat butuh waktu tak lebih dari 1 bulan.

"Modalnya tak lebih dari Rp 50 ribu. Waktu itu pakai selang dan corong yang ada di rumah," tuturnya.

Brahmantio dan Ikhlas mencoba sendiri alat itu di halaman rumahnya, ada yang diujicobakan ke tetangganya.

"Kalau siram biasa sudah mulai layu, yang pakai alat ini masih segar. Lebih efektif ke pertumbuhan tanaman tersebut," tutur dia.

Namun Brahmantio tak berpikir mendaftarkan temuannya ini karena ini teknologi tepat guna yang mudah dibuat dan digunakan siapa saja. "Alat ini sempat didaftarkan ke lomba lain, tapi nggak lolos. Terus saya kirim ke lomba NYIA ini ternyata lolos," imbuhnya.

Brahmantio sudah dua kali mengikuti ajang NYIA ini. Sebelumnya tahun 2012, Brahmantio membuat alat penggoreng peyek tumbuk dan berhasil menjadi finalis kendati tidak menang. Dia juga mengaku tak mendaftarkan hak cipta alatnya itu.

"Belum, tapi ada yang mencoba langsung ke peyek tumbuknya dan katanya lebih mudah memproduksi peyek tumbuknya," tutur dia.


(nwk/mad)