Silaturahmi Dubes Inggris dan Ormas Islam Jadi Ajang Debat
Selasa, 23 Nov 2004 16:09 WIB
Jakarta - Pertemuan Dubes Inggris untuk Indonesia Charles Humphrey dan Ormas Islam yang semula dijadwalkan sebagai silaturahmi berubah menjadi ajang debat. Isu terorisme dan perang Irak pun dibahas dalam pertemuan itu.Pertemuan dilangsungkan di auditorium PP Muhammadiyah Jl. Menteng Raya Jakarta Pusat, Selasa (23/11/2004) selama dua jam lebih. Humphrey didampingi tokoh muslim Inggris yang juga Director Asia Pacific UK Thread and Investment Afif Anwar Achmad. Dari Ormas Islam hadir Wakil Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsudin, serta perwakilan dari KAMMI dan lain lain."Kami ke sini untuk mempererat tali silaturahmi antara Inggris dan Indonesia. Masyarakat Muslim dilindungi hukum di Inggris. Adalah hal ilegal untuk mendiskriminasi ras, kita tidak ingin menjadikan agama sebagai senjata," ujar Afif setengah berpromosi.Belum sempat berbicara lebih jauh, Mashadi, perwakilan dari KAMMI pun melontarkan pernyataan. "George Bush dan Tony Blair itu setan atau iblis, mereka berdua tidak punya rasa kemanusiaan dan hati nurani. Membunuh dengan alasan yang tidak jelas, mana itu tidak ada senjata nuklir di Irak," ungkapnya.Mendengar pernyataan itu, kontan Humphrey tersentak kaget dan wajahnya memerah, "Kalau seandainya kekuatan Irak dapat mengendalikan diri dan tidak ada perlawanan maka perang akan berakhir," ujarnya.Dalam kesempatan ini Fauzan Al Anshari, salah satu perwakilan Ormas Islam membacakan surat pernyataan dari Abu Bakar Ba'asyir. "Kamu bisa membunuh kami, tapi tidak bisa membunuh Islam," ungkapnya mengutip tulisan Ba'asyir.Humphrey pun menimpali, "Irak adalah fenomena global, kita datang ke Iran, Malaysia, semua concern dengan masalah ini. Tapi kalian harus ingat ketika Bosnia-Sarajevo kita menjadi malaikat bagi mereka, jadi jangan hanya melihat Irak," jelasnya.Humphrey pun meninggalkan lokasi setelah dua jam lebih diberondong dengan pernyataan dan pertanyaan serupa dari perwakilan-perwakilan ormas Islam. Din Syamsudin menilai silaturahmi yang berubah menjadi forum diskusi tersebut bukanlah hal yang aneh. "Itu bukan hal yang pertama terjadi, dan sudah sering sekali. Kami harus sering mengupayakan silaturahmi antar negara. Setelah ini kami akan terus melakukan dialog dengan Dubes-dubes lain," demikian Din.
(dit/)











































