CSIS: Kuatnya Fenomena Jokowi Gerogoti Elektabilitas Prabowo

CSIS: Kuatnya Fenomena Jokowi Gerogoti Elektabilitas Prabowo

Danu Damarjati - detikNews
Minggu, 01 Des 2013 19:56 WIB
CSIS: Kuatnya Fenomena Jokowi Gerogoti Elektabilitas Prabowo
Jakarta - Survei CSIS memperlihatkan kuatnya elektabilitas Jokowi meninggalkan capres terkuat nomor dua, Prabowo Subianto, jauh di belakang. Fenomena Jokowi terlalu kuat dan bisa menggerogoti elektabilitas Prabowo.

"Fenomena Jokowi terlalu kuat sehingga bisa mengurangi pemilih Prabowo," kata Kepala Departemen Politik CSIS Philips L Vermonte di kantornya, Jl Tanah Abang III, Jakarta Pusat, Minggu (1/12/2013).

Ini diterangkan Philip dalam jumpa pers 'Survei Nasional CSIS November 2013: Tanda-tanda Berakhirnya Oligarki Elite Partai?'. Survei ini dilakukan lewat wawancara tatap muka di 33 provinsi dan berlangsung dari tanggal 13 hingga 20 November 2013. Ada 1.180 responden yang dilibatkan, dengan margin of error sebesar 2,85 persen dan tingkat kepercayaan sebesar 95 persen.

CSIS memperlihatkan, pemilih Jokowi dari Gerindra pada bulan November 2013 bahkan sebesar 20,6 persen, meningkat signifikan dari bulan April 2013 sebesar 12,6 persen.

"Survei tahun 2011, Prabowo masih nomor satu. Tapi begitu ada Jokowi di survei, Jokowi menjadi nomor satu (survei April 2013 dan sekarang)," ujar Philips.

Jika nama-nama capres potensial dikerucutkan hanya menjadi lima nama, maka Jokowi meraup 46 persen, Prabowo 14,2 persen, Aburizal Bakrie 9,9 persen, Jusuf Kalla 5,9 persen, dan Megawati 5,7 persen. Sementara yang belum punya pilihan sebesar 16,3 persen.

Kemudian, jika dikerucutkan menjadi dua orang capres saja, yaitu Jokowi vis a vis Prabowo, maka hasilnya adalah sebagai berikut:

April 2013
Jokowi: 46,6 persen
Prabowo: 22 persen
Belum punya pilihan: 29,1 persen

November 2013 (sekarang)
Jokowi: 58,2 persen
Prabowo: 19,3 persen
Belum punya pilihan: 19,8 persen

Jokowi dinilai sebagai sosok yang mencerminkan antitesis dari semua capres. Kesan oligarki partai tak nampak dari Jokowi karena dia tidak duduk di puncak kendali partai.

(dnu/nrl)


Berita Terkait