Teman seprofesi Walan pengemis Rp 25 juta, Sa'aran (70) memiliki kondisi yang sehat. Meskipun secara fisik sehat, Walang menyebut temannya itu pikun.
Saat ditemui di Panti Sosial Bina Insan Cipayung. Sa'aran tengah memakai baju hijau dan celana traning warna hitam. Kulit keriput dan rambut berwarna putih sangat menarik simpati orang-orang.
Diceritakan oleh Kasie penindakan dan pengawasan Sudin Sosial Jakarta Selatan Miftahul Huda mengatakan kalau Sa'aran memiliki keterbatasan fisik. Namun ketika ditemui kondisinya terlihat sehat. Sa'aran sendiri dapat diajak berkomunikasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika wartawan berusaha menanyakan sejumlah pertanyaan kepada Sa'aran. Ia terlihat lesu seakan menujukan dirinya sedang sakit. Menariknya, Walang selaku aktor intelektual kerap kali mengatur gerak-geriknya.
Sesekali ketika lepas dari pengawasan Walang, ia mampu menjawab pertanyaan wartawan. Ia pun melontarkan jawaban dengan bahasa sunda.
"Diajak sama dia ke Jakarta untuk minta-minta," ujar Sa'aran.
Sa'aran mengaku dirinya mendapat upah Rp 300 ribu selama satu bulan. Meski ikut mengemis uang tersebut dikuasai oleh Walang.
"Semua dia yang ngatur dari makan sampai ongkos saya pulang-pergi," tutur Sa'aran.
Saat Sa'aran menjawab pertanyaan wartawan entah kenapa Walang sontak mencubit-cubit kecil kawannya itu. Setelah dicubit Sa'aran pun langsung diam, seolah cubitan itu ada kode tertentu.
"Dia cuma pasien saya, yang ngatur semua itu saya," ungkap Walang sembari mengalihkan pembicaraan kepada dirinya.
(edo/gah)










































