"Itu sebelum punya titel haji, di kampung suka ikut taruhan pemilihan lurah," ujar Walang saat berbincang-bincang di Panti Sosial Bina Insan, Cipayung, Jakarta Timur, Kamis (28/11/2013).
Walang mengaku pernah menjadi buruh di Karawang. Sekembalinya ke kampung ia mencoba berjualan hewan ternak.
"Balik kampung jual kambing, sapi. Untungnya lumayan kalau saya beli sapi kurus digemukin nanti dijual bisa dapat untung Rp 5 jutaan," tuturnya.
Sebagai orang kampung Walang memiliki pemikiran bisnis yang baik. Bahkan ia bisa memutarbalikkan keuntungan penjualan.
"Sembari jualan sapi, suka ikut taruhan pemilihan lurah, terakhir saya menang taruhan pas pemilihan lurah Rancas Asih," imbuhnya.
Dikatakan Walang hasil taruhan sebesar Rp 40 juta digunakan untuk DP ongkos haji, sisanya untuk membenahi rumah. Setelah mendaftar untuk naik haji ia mengaku tobat.
"Sekarang udah punya gelar haji jadi malulah kalau taruhan lagi," ungkap Walang yang belum pernah naik haji ini.
(edo/gah)











































