Masdar dan Fajrul Dinilai Tepat Sebagai Ketum PBNU
Selasa, 23 Nov 2004 09:30 WIB
Jakarta - Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU), 28 November-2 Desember 2004, sejumlah nama calon ketum PBNU mulai dimunculkan. Pengamat NU Laode Ida menilai Masdar F Mas'udi dan Fajrul Falaakh sebagai sosok yang tepat untuk menduduki jabatan itu karena keduanya netral. "Orang yang tepat Masdar atau Fajrul. Mereka adalah tokoh yang paling netral dan dukungan untuk mereka juga ada. Yang lain terkontaminasi dan akan menggunakan NU sebagai kendaraan politik," ujar Laode dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (23/11/2004). Masdar adalah pelaksana harian ketua umum PBNU saat Hasim Muzadi non aktif berkaitan dengan pencalonannya sebagai cawapres pada pemilu lalu. Sedangkan Fajrul adalah salah seorang ketua PBNU.Senin (22/11/2004), mantan Ketum PBNU Gus Dur di Bandung mengatakan berdasarkan laporan yang diterimanya, calon yang berpeluang adalah Tolhah Hasan dan Mustofa Bisri. Dari 2 nama itu, Gus Mus, panggilan Mustofa Bisri paling berpeluang. Sementara peluang Hasyim dinilai Gus Dur, kecil. Menurut Laode, Gus Mus lebih cocok sebagai rois am dan bukan di tanfidziah. Sedangkan peluang Tolhah, lanjut Laode, masih ada apabila dilihat dari sosoknya sebagai mantan menteri agama. Namun, kiprahnya dalam NU tidak terlalu kelihatan. "Kalau melihat Tolhah sebagai mantan menteri agama, tentu banyak pengurus di daerah yang tahu," katanya. Sedangkan Hasyim, kata Laode, cukup berpeluang. "Tapi dia terlanjur cacat dan jauh dari Khitah NU serta gerakan sosial NU sebagai civil society. Kalau dia kembali sebagai ketum PBNU cenderung akan menjadikan NU sebagai kendaraan politik," paparnya. Ia menambahkan peran Gus Dur tidak akan terlalu kuat dalam menentukan terpilih tidaknya seorang calon ketum. "Saya kira pengaruh Gus Dur tidak terlalu kuat di Jawa karena sudah terpecah, begitu juga di luar Jawa," demikian Laode.
(rif/)











































