Walang sementara ini diinapkan di Panti Sosial Bina Insan, Cipayung, Jakarta Timur. Jika Walang dipulangkan aparat ke kampungnya di Subang, Jawa Barat, uang itu untuk dia.
Β
"Uang Rp 25 juta (saat ini) di panti sosial. Kalau dipulangkan ke kampung, dikasih lagi (uangnya) ke Walang. Ya itu kan duit dia, kita nggak boleh ngambil," ujar Miftahul Huda, Kepala Seksi Rehabilitasi Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan, kepada detikcom, Rabu (27/11/2013).
Menurut Miftahul, saat ditemukan uang Rp 25 juta tersebut disimpan di dalam plastik. Semula uang itu berupa recehan, namun kemudian ditukar menjadi uang kertas Rp 100 ribuan dan Rp 50 ribuan.
"Uangnya tadinya recehan. Ditukar sama Walang ke warung jadi ratusan ribu dan sebagainya," katanya.
Ada beberapa opsi untuk Walang. Seperti ditempatkan di panti sosial, dipulangkan ke kampung halaman atau ditempatkan di panti jompo. Begitu juga dengan rekan ngemisnya yang tunawicara, Sa'aran (60).
"Walang ngakunya Sa'aran itu tetangga di kampungnya," kata Miftahul.
Walang mengemis dengan mendorong gerobak. Sa'aran 'bertugas' ngendon di dalam gerobak dan mengaku sakit. Keduanya beroperasi di pinggir jalan dan pada malam hari di kawasan Jakarta Selatan.
"Saat ini gerobaknya berada di kantor Walikota Jakarta Selatan," kata Miftahul.
Walang dan Sa'aran ditangkap petugas Sudin Sosial Jaksel pada Selasa (26/11/2013) pukul 19.30 WIB di bawah Tugu Pancoran, Jaksel. Walang mengaku mengemis untuk modal tambahan naik haji. Dia sudah mendaftar haji di Subang, Jawa Barat. Meski belum pernah naik haji, namun Walang terkenal dan dipanggil tetangga kampungnya dengan sebutan "Haji Walang".
(/)











































