Saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Samad menceritakan pernah mengambil 5 batang kapur tulis dari kelasnya. Ia melakukannya karena semua teman-temannya melakukan hal yang sama.
"Dan waktu itu guru kami membiarkan. Mungkin karena dia menganggap kapur tulis itu bukan sesuatu yang berharga," kata Samad dalam diskusi Serial Seminar Guru Besar UI di Kampus UI, Jl Salemba Raya, Jakarta Pusat, Selasa (26/11/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ibu saya marah besar. Saya diminta harus kembalikan kapur tulis ini besoknya dan tidak menggunakannya sedikitpun," ucapnya.
Sepulang sekolah pada keesokan harinya, lanjut Samad, ibunya mengecek isi tasnya kembali. Beliau memastikan bahwa kapur tersebut telah dikembalikan ke sekolah.
"Jangan sekali-kali kau ulangi lagi. Tahu tidak, kau itu telah mengambil barang yang bukan hakmu," kata Samad menirukan ucapan ibunya kala itu.
Menurut Samad, pendidikan karakter semacam itu sangat penting untuk menumbuhkan bibit jujur dalam diri anak. Meski melalui hal kecil, namun hal itu akan melekat hingga dewasa.
"Orang tua kita bukan doktor, bukan profesor tapi bisa memberikan pendidikan karakter pada anaknya," tutupnya.
(kff/rmd)











































