PM Irak Yakin Pemilu Bisa Berlangsung 30 Januari
Selasa, 23 Nov 2004 06:03 WIB
Jakarta - Perdana Menteri (PM) sementara Irak Ayad Allawi yakin hanya sebagian kecil orang yang akan memboikot penyelenggaraan pemilu 30 Januari 2005. Ia memperkirakan jumlahnya antara 5-7 persen. "Pemberontak dan teroris tidak akan mendapatkan manfaat dari pengalaman demokrasi dan mereka akan memeranginya. Tetapi kami bertekad untuk mensukseskan pemilu," ujar Ayad Allawi kepada AP, Selasa (23/11/2004). Pernyataan Allawi itu menanggapi maraknya aksi kekerasan di ibukota Irak dan kota lainnya. Sebuah bom ditemukan di dalam pesawat komersial. Penembak gelap berkeliaran di sebelah utara Baghdad. Lima tubuh dalam keadaan terpenggal ditemukan di sebelah selatan Baghdad. Selain itu, para pemberontak menyerang konvoi pasukan AS di sebelah barat Baghdad. Namun, belum diketahui berapa jumlah korban. Sehari sebelumnya, seorang anggota pasukan AS tewas dalam sebuah serangan di Baghdad. Pentagon juga mengumumkan 3 anggota pasukan Marinir yang terluka di Fallujah akhirnya tewas. Meski demikian, pemerintah Irak tetap menjadwalkan pemilu pada 30 Januari mendatang. Pemilu itu akan menjadi pemilu pertama sejak jatuhnya rezim Saddam Hussein. Allawi memperkirakan hanya minoritas kecil yang akan memilih abstain pada pemilu mendatang dengan satu alasan atau lainnya. "Alasan mereka bersifat politik, bukan sektarian. Jumlah mereka tidak akan lebih dari 5, 6 atau 7 persen," katanya.
(rif/)











































