Tindakan Polisi di Bojong Dinilai Tidak Profesional
Senin, 22 Nov 2004 23:40 WIB
Jakarta - Anggota Komisi III DPR Patrialis Akbar menyesalkan insiden di Bojong. Ia menilai tindakan polisi dalam menangani aksi massa yang menyebabkan sejumlah warga sipil terkena tembakan peluru tajam sangat tidak profesional. "Kita sangat menyesalkan terhadap insiden di Bojong. Kita minta agar kasus ini segera diusut tuntas," ujar Patrialis saat dihubungi detikcom di Jakarta, Senin (22/11/2004) malam.Patrialis menilai sikap Polri yang menggunakan peluru tajam dalam menangani aksi massa sudah sering kali terjadi. "Polisi selalu memakai cara-caranya sendiri. Cara seperti ini dipakai sejak dulu dan sepertinya tidak pernah jera-jera," katanya.Seharusnya, kata Patrialis, dalam kondisi apapun Polri tidak boleh menggunakan peluru tajam dalam menangani aksi massa. "Untuk apa peluru tajam? Peluru tajam bukan untuk rakyat. Ini yang sangat kita sesalkan dan harus segera diusut tuntas," kata Patrialis.Dia juga menyesalkan mengapa polisi tidak terlebih dulu melakukan negosiasim dengan warga. Padahal dalam penanganan massa harus ada negosiator dari pihak polisi yang akan melakukan negosiasi dengan warga berkaitan dengan aspirasi mereka.Patrialis mengungkapkan, sebenarnya saat terjadi peristiwa bentrokan antara polisi dan warga di Bojong pihaknya sudah akan berangkat menuju lokasi kejadian. "Tapi karena ada sedikit masalah akhirnya batal. Tapi kita akan mempersoalkan masalah ini ke kapolri, karena dalam waktu dekat kita akan memanggil kapolri," tandasnya.Ketika ditanya soal desakan mundur terhadap Kapolri Jenderal Da'i Bachtiar, Patrialis setuju akan hal itu. "Sebenarnya juga, Kapolri dalam waktu dekat ini pasti akan diganti," tandasnya.Senin siang, ratusan warga yang menentang pengoperasian Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bojong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat bentrok dengan aparat. Mereka berasal dari desa-desa di sekitar kawasan TPST. Awalnya, ratusan warga itu bergerak mendatangi lokasi pabrik. Sesampainya di lokasi, mereka melempari pintu gerbang dengan batu. Setelah pintu gerbang terbuka, massa yang sebagian membawa kayu masuk dan melakukan pelemparan. Selain itu, mereka juga melakukan pengerusakan benda-benda yang berada di areal pabrik. Aparat kepolisian sempat kewalahan menahan laju massa. Mereka baru dapat menguasai keadaan setelah bantuan datang. Polisi mengejar massa yang lari menyebar hingga ke rumah warga. Beberapa dari mereka memukul atap rumah warga. Beberapa warga histeris karena ketakutan.Bentrokan warga dengan aparat itu menelan korban. Lima orang warga menderita luka tembak dan dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan. Mereka dirawat di RS Ibu dan Anak Mary Cileungsi serta RS MH Thamrin. Pasca bentrokan, beberapa warga Desa Bojong, Klapanunggal, Bogor mendatangi Mabes Polri, sekitar pukul 19.00 WIB. Didampingi sejumlah aktivis LSM dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Imparsial dan Komisi Untuk Orang Hilang dan Tertindas (Kontras), mereka meminta penyisiran terhadap warga dihentikan. Kedatangan mereka ditemui Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri Komjen Suyitno Landung. "Kami meminta agar polisi menghentikan penyisiran malam ini, dan dilakukan tindakan hukum terhadap mereka yang telah melakukan penganiayan dan penembakan. Suyitno Landung mengatakan, akan melakukan pengecekan ke lapangan," kata Indri dari Kontras.Hingga pukul 21.00 WIB, situasi di Desa Bojong, Klapanunggal, Bogor, masih mencekam. Aparat kepolisian hilir mudik di bekas lokasi kerusuhan. "Masih ada 2 truk yang hilir mudik di desa Bojong. Warga menjadi takut keluar rumah. Situasi masih mencekam," ungkap Slamet dari Walhi yang menjadi pendamping warga Bojong. Menurut Slamet, hingga kini sebanyak 33 warga ditangkap aparat kepolisian. Dari jumlah itu, seorang diantaranya pelajar kelas 1 SMU. Bentrokan yang terjadi di kawasan TPST Bojong itu bukanlah yang pertama. Sebelumnya ratusan warga Bojong bentrok dengan ratusan pemuda tak dikenal, September silam. Beruntung, tidak ada korban luka atau jiwa dalam insiden itu.
(rif/)











































