Lemsaneg: Semua Alat Elektromagnet Bisa Disadap, Tapi Bisa Bacanya?

Lemsaneg: Semua Alat Elektromagnet Bisa Disadap, Tapi Bisa Bacanya?

Nograhany Widhi Koesumawardani - detikNews
Jumat, 22 Nov 2013 19:54 WIB
Lemsaneg: Semua Alat Elektromagnet Bisa Disadap, Tapi Bisa Bacanya?
Kepala Lemsaneg Mayjen TNI Djoko Setiadi (tengah) didampingi Deputi Bidang Pengamanan Persandian Lemsaneg, Syahrul Mubarak (kiri) dan Deputi Bidang Pengkajian Persandian Rully Nursanto (kanan)
Jakarta - Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg) berbicara mengenai mesin sandi yang digunakannya dan tentang penyadapan. Tingkat kerumitan pengkodean menjadi kunci dari pengamanan data ini.

Kepala Lemsaneg Mayjen TNI Djoko Setiadi mengatakan pada dasarnya semua alat yang bekerja dengan gelombang elektromagnetik itu bisa disadap.

"Hanya ketika disadap, tidak bisa dibaca karena sudah disandi, dengan kriptografi (teknik yang mengubah data menjadi berbeda dari aslinya memakai algoritma matematika, red). Mungkin bisa baca, tapi butuh waktu 5 bulan, setahun atau tahunan. Isi beritanya sudah tidak penting lagi, kuncinya mungkin sudah kita putar lagi," jelas Djoko di kantornya, Jalan Harsono RM, Ragunan, Jakarta Selatan, Jumat (22/11/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lemsaneg sendiri mengakui memiliki mesin sandi buatan luar negeri. Namun, Lemsaneg mensyaratkan mesin sandinya harus bisa diotak-atik kuncinya. Tidak lama lagi, imbuh Djoko, Lemsaneg bisa mandiri dalam pengadaan mesin sandi.

Mengenai penyadapan Australia terhadap Presiden SBY, Ibu Ani dan para menteri, Djoko menjelaskan untuk pejabat sekelas RI-1 memiliki jaringan komunikasi sendiri. Telepon selular yang selama ini dipublikasikan disadap, imbuhnya, adalah nomor pribadi presiden, bukan jaringan komunikasi khusus.

Lemsaneg juga sudah membagikan telepon yang dilindungi kepada para pejabat negara itu agar tak bisa disadap.

"Kita sudah distribusikan (telepon bersandi), tapi hal itu digunakan apa tidak? Sekarang kita cek satu per satu," imbuhnya.

Lemsaneg memakai jaring komunikasi sandi sendiri untuk mengamankan data, suara, video, teks. "Semua saluran kita buat sendiri, kontennya kita enkripsi, dobel pengamanan, mudah-mudahan bisa menghindari penyadapan," tambah Djoko.

"Kebanyakan kalau bocor itu bukan sistemnya tapi manusianya," jelas dia, merujuk kepada pembocor informasi yang juga mantan pegawai CIA Edward Snowden.

(nwk/nrl)


Berita Terkait