Kepala Lemsaneg Mayjen TNI Djoko Setiadi mengatakan pada dasarnya semua alat yang bekerja dengan gelombang elektromagnetik itu bisa disadap.
"Hanya ketika disadap, tidak bisa dibaca karena sudah disandi, dengan kriptografi (teknik yang mengubah data menjadi berbeda dari aslinya memakai algoritma matematika, red). Mungkin bisa baca, tapi butuh waktu 5 bulan, setahun atau tahunan. Isi beritanya sudah tidak penting lagi, kuncinya mungkin sudah kita putar lagi," jelas Djoko di kantornya, Jalan Harsono RM, Ragunan, Jakarta Selatan, Jumat (22/11/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengenai penyadapan Australia terhadap Presiden SBY, Ibu Ani dan para menteri, Djoko menjelaskan untuk pejabat sekelas RI-1 memiliki jaringan komunikasi sendiri. Telepon selular yang selama ini dipublikasikan disadap, imbuhnya, adalah nomor pribadi presiden, bukan jaringan komunikasi khusus.
Lemsaneg juga sudah membagikan telepon yang dilindungi kepada para pejabat negara itu agar tak bisa disadap.
"Kita sudah distribusikan (telepon bersandi), tapi hal itu digunakan apa tidak? Sekarang kita cek satu per satu," imbuhnya.
Lemsaneg memakai jaring komunikasi sandi sendiri untuk mengamankan data, suara, video, teks. "Semua saluran kita buat sendiri, kontennya kita enkripsi, dobel pengamanan, mudah-mudahan bisa menghindari penyadapan," tambah Djoko.
"Kebanyakan kalau bocor itu bukan sistemnya tapi manusianya," jelas dia, merujuk kepada pembocor informasi yang juga mantan pegawai CIA Edward Snowden.
(nwk/nrl)











































