“Kalau dimasukin ke penjara kasihan, penjara kita kepenuhan. Masak anak sekolah digabung dengan anak kriminal. Itu tidak pantas. Tapi kalau anak itu tidak Anda hukum, dia tidak tahu itu salah, ngelunjak. Hukuman yang paling ringan dari mereka, kelompok geng ini dipecah,” kata Ahok di Balaikota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (22/11/2013).
Menurutnya dengan memindahkan para siswa ke SMA yang berbeda, akan memutus pertemanan antara ia dan senior-senior yang dapat menimbulkan niat untuk kembali tawuran. Namun, jika ia ingin tetap di sekolah asalnya maka sanksi keras harus diterima siswa bersangkutan.
“Kalau dia masih mau sekolah di situ, lebih keras lagi tidak naik kelas. Anda harus terima. Kalau tidak ya keluar! Ya kalau masih nekat juga, kembalikan ke orang tua. Berarti anak kamu sudah nggak bisa belajar,” terangnya.
Politisi Gerindra ini mengatakan aturan yang dimiliki sudah cukup tegas untuk menyelesaikan dan mencari solusi mengenai permasalahan siswa yang nakal. Hanya saja, ia menyayangkan kurangnya perhatian guru untuk menjalankan aturan ini sebagaimana mestinya.
“Semua aturan sudah ada. Selama ini guru selalu merasa nggak mau jalanin,” pungkasnya.
(mnb/gah)










































