Ditemui di camp sementara pengungsi di bandara militer Cebu, Marria bercerita kisahnya ketika topan haiyan melanda Filipina. Saat itu putri bungsunya bernama Elcorj Riezha baru berusia 1 minggu.
Keluarga ini berhasil selamat karena saat topan haiyan datang, mereka menetap dan bersembunyi di dalam rumah neneknya. Selama sepekan lebih, Marria bertahan bersama bayinya dalam rumah dengan sedikit sisa makanan.
"Saat air tinggi saya menggendong anak saya lalu melompat ke rumah tetangga saya yang lebih tinggi dan bertahan disana, suami saya lalu membawa ke-3 anak saya ke tempat lain yang aman," cerita Maria
Ketika topan berlalu, Marria berhasil bertemu kembali dengan keluarganya kecilnya di pusat evakuasi. Hasil pemeriksaan dokter, Marria dan bayinya dalam kondisi sehat.
Marria berencana tinggal di rumah bibinya di kota Bais, Negros Oriental. Sedangkan sang suami bertahan di Marabut untuk mengamankan barang-barang yang tersisa dari amukan badai.
Hingga saat ini ribuan korban selamat telah dievakuasi menggunakan pesawat dari beberapa wilayah yang terkena dampak paling parah dari amukan topan haiyan di antaranya provinsi Leyte, Marabut Samar, Guiyan serta Tacloban.
(hab/fdn)











































