Saat Anak Punk Mendamba Surga

Potret Buram Pengamen Jalanan

Saat Anak Punk Mendamba Surga

- detikNews
Jumat, 22 Nov 2013 15:40 WIB
 Saat Anak Punk Mendamba Surga
Solidaritas anak punk.
Jakarta - Penampilannya bisa dibilang seram dan acak-acakan. Celana jeans dan rompi dengan puluhan tambalan yang warnanya sudah mulai kusam. Belum lagi anting yang dipakai membuat orang bisa merasa ngilu karena besarnya lubang tindikan di dua telinganya.

Begitulah penampilan sehari-hari Aris Selaeman (23 tahun) yang mengaku sebagai anak punk. Enam tahun sudah dia menjadi anak punk yang mencari makan dengan mengamen di jalanan Jakarta.

Aris mengaku hanya memiliki ijazah sekolah menengah pertama. Dengan bekal itu dia merasa akan sulit mendapat pekerjaan. Apalagi setelah bergabung dengan rombongan anak punk, dia diusir dari keluarga yang malu dengan cibiran tetangga.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Capek juga bang ngamen cuma dapat uang receh. Mau pulang ke rumah tapi bokap, nyokap malu lihat anaknya. Pulangnya nanti kalau gue dah berubah benar kali,” kata Aris saat ditemui detikcom di depan halte Transjakarta Pasar Kramatjati, Kamis (21/11) kemarin.

Menjadi anak punk bukan pilihan Aris. Dia juga sering memikirkan masa depannya. Tidak punya penghasilan dan hanya mengharapkan belas kasihan dari orang saat mengamen jelas bukan hal yang positif.

Namun Aris merasa keluar dari anak punk untuk berubah sangat sulit. Rasa solidaritas sesama anak punk yang ditanam di jalanan bertahun-tahun sulit dihapus. Tidak ada bimbingan dan jauh dari keluarga menjadi faktor lain. “Susah bang. Sudah pengin berubah benar tetap saja susah.” kata dia.

Anak punk lain di perempatan Garuda, Taman Mini, Slamet Susanto (21 tahun), mengaku hal yang sama. Keluar dari kumpulan anak punk jalanan bukan hal yang mudah. Selain sudah seperti saudara sendiri, sesama anak punk menganggap teman adalah keluarganya.

Pasalnya, hampir setiap anak punk itu punya jauh dan punya masalah dari keluarga. Bukti solidaritas sesama anak punk ketika banyak tambalan kain simbol di pakaiannya.

Menurut dia, tambalan kain bergambar yang dikenakan ini menurutnya bukan sekedar tambalan. Tapi, menandakan anak punk yang memakai sudah ‘menjelajah’ ke berbagai daerah. Anak punk dianggap punya solidaritas dan punya kenalan banyak.

Kain tambalan simbol ini didapatkan ketika bertemu dengan kumpulan anak punk jalanan dari wilayah lain. Kain tambalan ini biasanya saling ditukar dan diberikan kemudian langsung dijahit ala kadarnya.

Menurut Slamet, kalau semakin banyak tambalan kain simbol, menurutnya bisa cepat berbaur dengan anak punk di daerah yang mangkal. “Ini kayak begini. Saya dikasih anak sana waktu di Cileduk, Grogol. Kita kan anggap teman itu saudara. Yah, kadang berantem juga,” kata Slamet.

Slamet mengaku sudah hidup di jalanan sejak usia dua belas tahun. Dia menjadi anak punk setelah orangtuanya bercerai. Sejak itu dia diasuh oleh kakek dan neneknya di Pulogadung, Jakarta Timur.

Jenjang sekolah pun, ia hanya sampai sekolah dasar. Sempat bekerja bantu neneknya di kantin makanan Pulogadung. Tapi, karena bandel, ia lebih memilih mengamen sehingga sering ketemu anak punk jalanan.

“Sekolah cuma sampai SD. Enggak ada biaya. Ketemu teman-temen yang senasib di jalanan ya begini jadi susah keluar,” ujarnya.

Aris dan Slamet berharap suatu saat bisa keluar dari kelompok anak punk. Mereka ingin menjadi orang yang diakui masyarakat. Sama seperti masyarakat lainnya, mereka juga mendambakan sebuah surga.


(erd/erd)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads