Sapi Lintas Batas Negara Kerap Picu Kisruh Warga Timor Leste dan Indonesia

Cerita dari Perbatasan

Sapi Lintas Batas Negara Kerap Picu Kisruh Warga Timor Leste dan Indonesia

Andri Haryanto - detikNews
Jumat, 22 Nov 2013 10:54 WIB
Sapi Lintas Batas Negara Kerap Picu Kisruh Warga Timor Leste dan Indonesia
Foto: Andry H/detikcom
Atambua, - Menjaga wilayah perbatasan negara bukan hal mudah. Setumpuk tugas menanti para personel Satuan Tugas Pengamanan Batas (Satgas Pamtas) RI-Republik Demokratik Timor Leste (RDTL). Salah satunya adalah mendamaikan warga kedua negara karena sapi yang melewati tapal batas kedua negara.

"Kalau penyusup tidak ada. Hanya ada warga yang akan mengikuti acara adat di Timor Leste dan kita izinkan. Namun, pernah ada sapi nyebrang lintas batas negara dan kita damaikan antar warganya," kata Komandan Satgas Pamtas Mayor Infanteri Budi Prasetyo dari Batalyon Infanteri 743 Kupang, di Atambua, NTT, Kamis (21/11/2013).

Satuan yang dipimpin Budi bertugas untuk enam bulan ke depan. Terhitung dari September 2013 hingga Februari 2014. Penugasan enam bulan ini adalah untuk menyegarkan pasukan yang bertugas di perbatasan dan mengganti dengan satuan baru.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, untuk menghidari pelanggaran prajurit bila terlalu lama berdiam di satu tempat penugasan. Sejak tahun 1999, setiap satuan memiliki waktu satu tahun untuk menjaga perbatasan di wilayah yang pernah bergabung dengan Indonesia tersebut.

Satuan ini memiliki tugas menjaga 313 patok yang tersebar di sepanjang garis batas negara. Terdapat 39 pos penjagaan perbatasan mulai dari Malaka, Timor Tengah Utara (TTU), Belu, hingga Kupang.

Patroli dilakukan dengan berjalan kaki setiap hari guna memastikan patok-patok tersebut dalam kondisi yang baik dan tidak berpindah.

"Kalau hujan turun dan air sungai meluap, patok-patok itu tidak bisa dikontrol. Pengecekan harus menuggu sungai surut dan dipastikan patok tidak berpindah," teranganya.

Tidak hanya menjadi penjaga patok batas wilayah, para personel juga memiliki tugas lain. Salah satunya adalah dengan menjadi pengajar pembantu di beberapa sekolah yang ada di wilayah-wilayah yang dekat dengan perbatasan. Menurutnya,

banyak sekolah-sekolah yang kekurangan tenaga pengajar. Oleh karena itu, personel TNI diminta sukarela untuk membantu pendidikan anak-anak di daerah terpencil tersebut.

"Satu pesan yang selalu saya sampaikan kepada personel yang menjaga pos perbatasan, apabila kita tidak bisa mengubah situasi, maka kita harus menikmati situasi tersebut," ujarnya.

(ahy/fdn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads