HH dalam pemeriksaan polisi mengaku dirinya melakukan tindakan itu karena sang dokter tak bisa menjawab pertanyaannya dan malah main BBM. Sedangkan versi pihak RS Husada menyebut HH tersinggung saat ditanya hubungannya dengan gadis 18 tahun yang diperiksa dokter. dr Fransiska mengeluarkan ponsel bukan untuk BBM-an tapi untuk merekam HH yang berulah.
"Jadi polisi harus melihat background, kasus tidak berdiri sendiri harus di-cross check," kata pengurus harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi saat dikonfirmasi detikcom, Kamis (21/11/2013).
Menurut dia, soal penyiraman kopi panas dan dugaan pemukulan di kepala pada dokter adalah soal lain. Tapi polisi harus bisa benar-benar jernih melihat kasus ini.
Tulus juga menyampaikan, lepas dari dua versi pengakuan itu, sebaiknya memang para dokter saat bertugas memeriksa pasien mematikan teleponnya. Jadi menuntaskan dahulu pemeriksaan pasien.
"Kecuali darurat, tapi tentu mesti minta izin lebih dahulu ke pasien," terang dia.
Tulus juga menambahkan, antara pasien dan dokter harus terjalin komunikasi yang baik. Bahkan 80 persen penyakit bisa diketahui dari perbincangan atau komunikasi yang baik.
"Di Singapura itu dokter berkomunikasi dengan baik ke pasien," imbuhnya.
Tulus tak asal berbicara, penelitian 5 tahun lalu bersama Konsili Kedokteran Indonesia mendapatkan hasil bahwa dokter Indonesia dan pasien kurang berkomunikasi.
"Komunikasi yang baik itu penting," saran Tulus.
(ndr/nrl)











































