Selain Jalur Busway, Pengendara Motor Sering Serobot Jalur Sepeda

Menanti Jalur Sepeda di Jakarta

Selain Jalur Busway, Pengendara Motor Sering Serobot Jalur Sepeda

Ropesta Sitorus - detikNews
Kamis, 21 Nov 2013 13:16 WIB
Selain Jalur Busway, Pengendara Motor Sering Serobot Jalur Sepeda
Pesepeda terpaksa memanggul sepedanya karena jalur sepeda diserobot oleh pemotor. (Foto - Bike to Work)
Jakarta - Komunitas pengendara sepeda di Jakarta disebut kian bertambah banyak. Sejumlah karyawan tak lagi ragu untuk menunggangi sepeda saat ke tempat kerja. Salah satunya Diah Kusumo Dewi (34 tahun), anggota komunitas Bike to Work Rombongan Bekasi (RoBek).

“Sekarang makin banyak srikandi-srikandi bersepeda,” kata Diah kepada detikcom, Rabu (20/11) kemarin. Tiga kali dalam sepekan Diah menggunakan sepeda dari rumahnya di Pondok Gede ke kantornya di jalan Sudirman, Jakarta Pusat.

Meski punya segudang manfaat, Diah mengaku bersepeda di Ibu Kota masih rawan, terutama jika sendiri. “Ada beberapa kejadian yang tasnya dicopet, ada juga yang pelecehan (seksual) juga. Kalau misalnya pulang malam karena lembur, sebisa mungkin berdua lah,” tambah Diah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penuturan Diah mewakili ribuan pengendara sepeda di Jakarta. Menurut Ketua komunitas Bike to Work Toto Sugito, di Jakarta ada sekitar 7000 orang yang aktif bersepeda ke kantor. “Itu yang terdaftar di kita, di luar itu bisa mencapai satu juta orang,” kata dia saat berbincang dengan detikcom di Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (20/11).

Sementara jalur sepeda di Ibu Kota ini hanya ada dua, yakni di Melawai sepanjang 1,5 kilometer dan di Kanal Banjir Timur 6,7 kilometer. Panjang jalur ini jelas jauh dari ideal. Akibatnya pengendara sepeda sering berebut jalur dengan pengendara motor.

Selain bikin tak nyaman, aksi serobot ini juga membuat tak aman. Toto menyebutkan banyak pengendara sepeda yang terlibat kecelakaan di jalan, hingga patah tulang bahkan meninggal.


Sejak Bike To Work berdiri pada 2004, tercatat jumlah pengendara sepeda yang meninggal karena kecelakaan lalu lintas sekitar 20 orang, sementara korban yang luka berat dan ringan sekitar 75 orang.

Toto menyebut kecelakaan tersebut sering dipicu oleh perilaku semena-mena dari pengendara lain terhadap pesepeda karena dianggap kasta terendah dalam transportasi. “Kami merasa selalu terpinggirkan, enggak dianggap. Itu bentuk nyata bahwa masyarakat masih belum tahu kami punya hak yang sama di jalan,” kata dia.

Tahun 2005 lalu komunitas Bike to Work meminta langsung adanya jalur khusus pesepeda ke Wakil Gubernur DKI Jakarta yang waktu itu dijabat Fauzi Bowo. Saat itu menurut Toto, wakil gubernur yang biasa disapa Foke itu menyatakan mendukung.

Namun hingga Foke selesai menjabat gubernur, jalur khusus sepeda itu tak pernah terwujud.


“Setiap ditanya wartawan, bang Foke selalu bilang ‘kalau sudah sampai 1 juta pesepeda di Jakarta, saya membuat (jalurnya),” kata Toto.

(erd/erd)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads