“Sekarang makin banyak srikandi-srikandi bersepeda,” kata Diah kepada detikcom, Rabu (20/11) kemarin. Tiga kali dalam sepekan Diah menggunakan sepeda dari rumahnya di Pondok Gede ke kantornya di jalan Sudirman, Jakarta Pusat.
Meski punya segudang manfaat, Diah mengaku bersepeda di Ibu Kota masih rawan, terutama jika sendiri. “Ada beberapa kejadian yang tasnya dicopet, ada juga yang pelecehan (seksual) juga. Kalau misalnya pulang malam karena lembur, sebisa mungkin berdua lah,” tambah Diah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara jalur sepeda di Ibu Kota ini hanya ada dua, yakni di Melawai sepanjang 1,5 kilometer dan di Kanal Banjir Timur 6,7 kilometer. Panjang jalur ini jelas jauh dari ideal. Akibatnya pengendara sepeda sering berebut jalur dengan pengendara motor.
Selain bikin tak nyaman, aksi serobot ini juga membuat tak aman. Toto menyebutkan banyak pengendara sepeda yang terlibat kecelakaan di jalan, hingga patah tulang bahkan meninggal.
Toto menyebut kecelakaan tersebut sering dipicu oleh perilaku semena-mena dari pengendara lain terhadap pesepeda karena dianggap kasta terendah dalam transportasi. “Kami merasa selalu terpinggirkan, enggak dianggap. Itu bentuk nyata bahwa masyarakat masih belum tahu kami punya hak yang sama di jalan,” kata dia.
Tahun 2005 lalu komunitas Bike to Work meminta langsung adanya jalur khusus pesepeda ke Wakil Gubernur DKI Jakarta yang waktu itu dijabat Fauzi Bowo. Saat itu menurut Toto, wakil gubernur yang biasa disapa Foke itu menyatakan mendukung.
Namun hingga Foke selesai menjabat gubernur, jalur khusus sepeda itu tak pernah terwujud.
“Setiap ditanya wartawan, bang Foke selalu bilang ‘kalau sudah sampai 1 juta pesepeda di Jakarta, saya membuat (jalurnya),” kata Toto.
(erd/erd)











































