Penyebab Meninggalnya Pilot Garuda Belum Diketahui
Senin, 22 Nov 2004 16:22 WIB
Jakarta - Kapten pilot pesawat Garuda Sri Hardono meninggal, setelah sebelumnya mengalami sakit di dalam pesawat GA 501 yang dikemudikannya. Sampai sekarang, penyebab meninggalnya Sri Hardono masih belum diketahui. Kepala Komunikasi PT Garuda Indonesia Pujobroto mengaku belum mengetahui apa penyakit yang diidap oleh Sri Hardono sebelum meninggal. "Kita belum tahu apa penyakitnya," kata Pujobroto saat ditemui di kantor PT Garuda, Jl. Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (22/11/2004). Pujobroto juga tidak mau memberikan keterangan apakah Sri Hardono sudah meninggal di dalam pesawat atau saat dalam perjalanan ke RS. "Saya tidak bisa memberikan keterangan soal itu," kata dia. Kronologi Meninggalnya Sri Hardono Pada kesempatan itu, Pujobroto menjelaskan kronologi kejadian itu. Pesawat GA 501 berjenis Boeing 737-500 take off dari bandara Supadio Pontianak menuju Jakarta pukul 08.30 WIB. Setelah pesawat itu terbang selama 15 menit dengan ketinggian 17 ribu kaki, co-pilot yang bernama Aditya Adiyanto menginformasikan bahwa kapten pilot Sri Hardono mengalami sakit. Co-pilot Aditya kemudian mengambil alih kemudian pesawat. "Kru pesawat kemudian mengumumkan untuk menanyakan apakah di antara penumpang ada tenaga medis. Saat itu, ada dua dokter yang memeriksa kondisi kesehatan Kapten Sri Hardono. Kemudian diputuskan bahwa pesawat harus kembali ke Pontianak," kata Pujobroto. Sebelum pesawat mendarat, pihak bandara sudah diminta mendatangkan ambulans dan tenaga medis. Begitu pesawat mendarat di Bandara Supadio pukul 09.05 WIB, Sri Hardono kemudian dibawa ke RS Antonius. "Dan pukul 09.15 WIB, Kapten Sri Hardono dinyatakan meninggal," kata Pujo. Pujobroto juga menjelaskan, bahwa setiap pilot Garuda diwajibjan melakukan general check up secara menyeluruh enam bulan sekali. Dalam catatan Garuda, Sri Hardono melakukan check up terakhir pada Juni 2004. "Saat check up terakhir, kondisi kesehatan Kapten Sri Hardono sangat baik," ungkapnya. Sri Hardono sendiri berusia 50 tahun. Dia bergabung di Garuda sejak tahun 1978. Sri Sudah memiliki jam terbang 15.884 jam. Tahun 1993, Sri sudah mengikuti kursus penerbangan pesawat besar Boeing 747-200. "Jadi, Kapten Sri Hardono merupakan pilot berpengalaman dan memiliki jam terbang yang tinggi," kata Pujo. Menurut Pujo, keluarga Sri Hardono sudah diberitahu mengenai kejadian ini. Keluarga Sri tinggal di Ciledug, Tangerang. Namun, Pujo mengaku belum mengetahui kapan jenazah Sri akan diterbangkan ke Jakarta.
(asy/)











































