Komandan Regu A Petugas Keamanan Blok G Tanah Abang, S. Rizal, mengakui lokasi lantai 3 yang dulu sempat dibiarkan kosong memang kerap disambangi pelacur.
“Masalahnya dulu gak dikunci, jadi saya usir dari pintu sini, masuk dari sana, bingung saya kerja. Dulu kata orang tempat ini bekas jablay memang tapi mereka tidak mangkal, hanya jalan saja,” kata dia ketika ditemui detikcom, Senin (18/11).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pintu gerbang jembatan juga selalu dikunci sejak pukul 16.00 WIB. “Kalau sekarang kan sudah dikunci, tinggal kita kontrol dari lantai 1 saja. Jadi gak pernah ganggu pedagang karena mereka gak pernah naik, kalau tak percaya coba saja datang ke sini malam hari,” ujar Rizal.
Kepala Satuan Polisi Pamong Praja DKI Kukuh Hadi Santoso menilai pihaknya sudah sering melakukan pengecekan lokasi prostitusi di Bongkaran, Tanah Abang. Namun, karena informasi sering bocor, razia ini selalu gagal.
Kukuh menjelaskan selama ini praktik prostitusi Tanah Abang kerap nekat dan bandel. Meski sering dilakukan razia, para pelakunya bukannya ciut tapi malah tambah mewabah.
Bahkan, mengganggu kenyamanan warga sekitar atau pengguna angkutan kereta api karena di momen tertentu seperti Bulan Ramadan, kemaksiatan di kawasan ini tetap berjalan.
“Kami sering lakukan penertiban. Tapi, sampai sana kosong. Ya ada yang bocorin. Begitu terus. Besoknya dapat laporan beroperasi lagi. Bandel mereka ini,” ujar Kukuh saat dihubungi detikcom, Senin (18/11).
Namun Kukuh menilai berlebihan persoalan prostitusi bongkaran Tanah Abang yang dianggap mengganggu pedagang pasar Blok G. Pasalnya, prostitusi di Bongkaran sudah berlangsung lama atau sebelum Blok G diresmikan.
Persoalan ini, menurut dia, seharusnya tidak dibesarkan dan seolah-olah menjadi salah Satpol PP karena tidak menertibkan daerah prostitusi tersebut. “Kalau dagangan gak laku, jangan ngelempar isu-isu. Lha dulu waktu di pinggir jalan pakai lapak umum, enggak ngeluh,” ujarnya.
(brn/brn)











































