Seperti dituliskan dalam buku Suhartono 'Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan' terbitan PT Kompas Media Nusantara, dalam keseharian Hoegeng selalu membawa tas sendiri.
Hoegeng sehari-hari membawa dua tas, yakni tas berisi dokumen kerja dan catatan kegiatan pribadinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Terima kasih Mas Dharto, tidak usah. Hoegeng masih kuat dan bisa membawa sendiri," ujar Hoegeng kepada ajudannya, seperti dikutip dalam buku itu, Senin (18/11/2013).
Saat itu, Dharto terus memaksa Hoegeng. Namun Hoegeng yang saat itu menjadi menteri/sekretaris presidium kabinet menolak dengan halus. Hingga akhirnya Dharto, merajuk soal hubungan ayah dan anak.
"Pak Hoegeng, misalkan Pak Hoegeng itu bapak saya dan saya ini anaknya. Apakah pantas anaknya jalan lenggang kangkung dan tidak membantu apa-apa, padahal bapaknya bawa dua tas di kanan kirinya?" tutur Dharto ke Hoegeng.
Mendengar itu, akhirnya Hoegeng pun rela memberikan satu tasnya untuk dibawa Dharto sedang satu tas lagi tetap dibawa olehnya.
"Monggo kalau Mas Dharto mau membantu," tutur Hoegeng kepada sekretaris sekaligus ajudannya itu.
(ndr/fdn)











































