Kronologi Teror Keluarga Munir

Kronologi Teror Keluarga Munir

- detikNews
Minggu, 21 Nov 2004 16:41 WIB
Jakarta - Bukan parsel yang diterima keluarga almarhum Munir setelah lebaran. Namun sebuah kotak yang isinya menjijikkan untuk menteror keluarga itu. Pengirim atas nama Zul Rizal Umar yang beralamat di Bogor.Berikut kronologis kotak berisi teror itu diterima keluarga Munir seperti rilis yang dibagikan Kontras, Imparsial dan keluarga kepada wartawan di kantor Imparsial, Jl. Diponegoro, Jakarta Minggu (21/11/2004).Sabtu (20/11/2004) pukul 11.30 WIB, seoramg petugas pos dan giro berseragam , berhelm hitam, dan jaket hitam, menggunakan motor pos warna oranye datang ke rumah Jl. Cendana XII, no 12, Bekasi. Petugas itu menanyakan rumah Munir. Dia kemudian menyatakan, ada kiriman dan meminta Mulyono, keluarga Munir, untuk menandatangani tanda terima paket lalu memberikan paket kepada Mbak Suciwati, istri Munir. Mbak Suci langsung membuka paket dan melihat ada bungkusan di dalam stereofoam (pembungkus makanan). Mbak Rena, salah satu keluarga diminta Mbak Suci menaruh bungkusan tersebut ke halaman rumah. Rena sempat melihat isi plastik di dalam stereofoam berupa kepala ayam.Pukul 14.10 WIB, staf Kontras membuka isi paket dan melakukan identifikasi paket itu. Paket itu berbentuk kardus coklat dan dibungkus kertas semen warna coklat, panjang 22 cm, lebar 20 cm dan tinggi 8 cm. Dalam kardus coklat ada stereofoam warna putih dengan panjang 19 cm, lebar 18 cm dan tinggi 7 cm.Kemudian di dalam stereofoam terdapat bungkusan plastik transparan sepanjang 13 cm dan lebar 7 cm. Isinya kepala ayam sampai leher, ceker 2 buah dan kotorannya. Semuanya dalam kondisi telah membusuk. Dalam stereofoam terdapat tulisan "Awas !!!!! Jangan libatkan TNI dalam kematian Munir, Mau Menyusul Seperti Ini?!. Tertulis pengirim Zul Rizal Umar, Jl. Semeru X, nomor 45 Bogor, ditujukan kepada YT NY Suciwati, Jl. cendana XII no 12, Jaka Sampurna, Bekasi Selatan.Pukul 15.00, paket diserahkan kepada polisi atas nama Tri dan Bambang dari Polda Metro Jaya.Pukul 15.30 WIB, tim forensik datang dan mendokumentasikan seluruh barang bukti yang diambil polisi.Sebelum teror itu, pada 9 September 2004 keluarga almarhum Munir di Batu, Malang, juga menerima teror. Teror itu berupa surat tanpa ada nama pengirim. Surat ini juga diserahkan ke pihak polisi sebagai barang bukti.Tentang alamat Zul yang ditulis sebagai pengirim ternyata fiktif. "Setelah dicek ternyata tak ada alamat itu. Sudah dicek polisi tidak ada ada nomor 45," jelas Direktur Operasional Imparsial Rusdi Marpaung. (iy/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads