Investigasi Kasus Munir
Tim Jakarta Terlihat Tidak Siap
Minggu, 21 Nov 2004 14:41 WIB
Den Haag - Tim Mabes Polri dan forensik belum tahu apa yang akan dikerjakan selama di Belanda. Bahkan dr Amar Singh sama sekali belum membaca kopi laporan otopsi dari Deplu Belanda.Hal itu terungkap pada konferensi pers yang diikuti pers Belanda dan Indonesia di Nieuwspoort, ruang Provinsi, komplek parlemen Binnenhof, Den Haag, Jumat (19/11/2004) sore waktu setempat."Kita datang untuk bersilaturahmi, bertukar pikiran dengan tim Belanda yang telah melakukan otopsi (Munir)," jawab AKBP Anton Charlyan saat ditanya apa misi kedatangan tim Jakarta ke Belanda.Menurut Anton, yang hari itu rapih mengenakan jas warna bordeaux kecoklatan, dengan bertukar pikiran mungkin ada hal-hal baru untuk dikembangkan bagi kepentingan penyelidikan ke depan. Saat dikejar agenda apa yang akan dikerjakan tim selama di Belanda, Anton mengatakan bahwa hal itu masih dijadwalkan alias belum jelas."Masih dijadwalkan. Nanti sore (kami akan) diterima Deplu Belanda. Untuk jadwal selanjutnya masih menunggu negosiasi-negosiasi," ujar Anton.Meskipun demikian, Anton menekankan bahwa bagi Polri yang penting adalah bagaimana nanti hasil penyelidikan di Belanda itu dapat dibawa sebagai bukti ke Indonesia. Ia juga tegas menjaga jarak dari upaya-upaya spekulasi. "Untuk menuju ke pelakunya tidak bisa dengan spekulasi-spekulasi, karena harus melihat alat-alat bukti yang ditemukan. Dalam hal ini semua orang harus diperlakukan sama menurut asas praduga tak bersalah," tandasnya. Secara terpisah, saat detikcom menjajagi persiapan tim kepada dr. Amar Singh, ternyata jawabannya mengambang dengan teori-teori yang jauh dari kondisi terakhir Munir dan gejala-gejala yang ditunjukkannya, hingga dia meninggal dunia. Dari pendekatan forensik, dr. Singh misalnya menyebut ciri-ciri orang keracunan arsenicum dapat ditemukan zat tersebut di rambut atau kukunya. Padahal ini untuk kasus keracunan arsenicum secara kronis. Singh nampaknya kurang data tentang kondisi terakhir Munir yang justru menunjukkan gejala kena arsenicum secara akut. Saat ditanya apakah sebelum berangkat ke Belanda dia sudah melihat, membaca atau mempelajari kopi laporan hasil otopsi yang dikirimkan pihak Deplu Belanda kepada Deplu RI, Singh akhirnya mengaku, "Belum!" Sumber detikcom di KBRI Den Haag juga mengatakan bahwa tim dari Jakarta terkesan tidak siap. Misalnya tim tidak membawa surat permintaan resmi dari pemerintah Indonesia yang dikeluarkan dan diteken Menteri Kehakiman atau Jaksa Agung. Ketiadaan surat itu menyebabkan pihak Belanda belum bersedia membuka akses ke record otopsi Munir.Sistem administrasi Belanda itu ketat dan rapi, record-nya jelas, sehingga di kemudian hari tidak ada saling tuding dan saling lepas tangan. Nampaknya hal ini juga luput dari persiapan dan kurang dipelajari.
(es/)











































