YLKI: Kecelakaan di Tol Jagorawi Karena Minim Warning

YLKI: Kecelakaan di Tol Jagorawi Karena Minim Warning

- detikNews
Kamis, 18 Nov 2004 15:05 WIB
Jakarta - Salah satu penyebab kecelakaan maut di Tol Jagorawi adalah minimnya warning terhadap pengendara. Banyaknya korban juga menunjukkan rendahnya emergency response Jasa Marga.Demikian diungkapkan Pengurus Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Sudaryatmo, kepada detikcom saat berbincang-bincang melalui telepon, Kamis (18/11/2004)."Sebagai konsumen, para pengemudi itu berhak mendapatkan informasi mengenai sesuatu yang bisa diantisipasi. Rombongan presiden itu termasuk hal yang bisa diantisipasi. Apa sih susahnya memberitahu hal itu disetiap pintu masuk," ujar Sudaryatmo.Menurut Sudaryatmo, informasi tersebut sangat penting bagi konsumen. Konsumen menjadi memiliki pilihan untuk masuk jalan tol atau tidak, Bagi yang terlanjur masuk, sambungnya, akan lebih berhati-hati."Jadi saya melihat penyampaian informasi atau warning kepada konsumen dari Jasa Marga sebagai pengelola tidak maksimal," tutur Sudaryatmo.Emergency Response RendahSudaryatmo juga menyoroti emergency response Jasa Marga dalam peristiwa tersebut. Menurut Sudaryatmo, salah stu penyebab banyaknya korban jiwa dalam peristiwa tersebut karena rendahnya emergency response Jasa Marga."Hal itu bisa terlihat dari jam terjadinya kecelakaan sampai datangnya pertolongan. Kalau pertolongan bisa segera datang, kemungkinan untuk menyelamatkan korban lebih besar," tutur Sudaryatmo.Sudaryatmo menambahkan, para pengguna jalan tol seharusnya mendapat pelayanan yang maksimal. Sebagai konsumen, mereka telah membayarkan sejumlah uang."Kenyataannya emergency response Jasa Marga tidak memiliki standar. Termasuk juga dengan perlengkapannya. Seharusnya Jasa Marga membangun kerjasama khusus dengan sejumlah rumah sakit," tukas Sudaryatmo.Dalam kesempatan yang sama, Sudaryatmo juga mengaku sangat mendukung proses hukum untuk menuntaskan kasus ini. Konsumen bisa meminta pertanggungjawaban hukum kepada PT Jasa Marga di pengadilan."Problemnya memang belum ada audit independen mengenai kecelakaan di tol. Kalau terjadi kecelakaan, selalu yang dikedepankan kondisi mobil, alam, dan pengemudinya," kata Sudaryatmo."Penyelidikan di lokasi selama ini selalu dilakukan sepihak oleh polisi dan operator jalan tol. Ke depan harus melibatkan tim yang lebih independen, sehingga hasilnya bisa lebih kredible. Tidak mungkin mereka (operator dan polisi) menyalahkan diri sendiri," imbuhnya. (djo/)


Berita Terkait