Prihatin Jubir Kepresidenan atas Kecelakaan Jagorawi
Kamis, 18 Nov 2004 13:13 WIB
Jakarta - Kecelakaan di Tol Jagorawi menyisakan rasa keprihatinan terhadap sikap dan pernyataan Jubir Kepresidenan Andi Mallarangeng yang langsung menyalahkan sopir bus Garuda dan defensif terhadap petugas.Tabrakan beruntun yang melibatkan 7 kendaraan terjadi di Tol Jagorawi sekitar pukul 07.50 WIB, Rabu 17 November 2004. Akibatnya 6 orang tewas dan 10 orang luka.Insiden tersebut terjadi sekitar 10 menit sebelum rombongan Presiden SBY melewati lokasi kejadian. Sesuai prosedur tetap, kendaraan yang berada di lintasan yang akan dilalui Presiden dihentikan sementara. Namun kemudian terjadi tabrakan beruntun.Andi mengklaim prosedur tetap sudah dilakukan dengan benar. Namun ada human error yang dilakukan sopir bus Garuda sehingga kecelakaan terjadi. Andi bahkan menyatakan ada kemungkinan sang sopir mengantuk. Dia pun membantah penyetopan kendaraan dilakukan petugas secara mendadak.Atas apa yang disampaikan Andi tersebut ternyata menimbulkan keprihatinan di hati sejumlah warga yang disampaikan kepada detikcom hingga Kamis (18/11/2004) melalui surat elektronik.Anto Motulz dalam surat elektroniknya menyebutkan: "Kecelakaan Tol Jagorawi akibat iring-iringan VVIP. Saya sangat prihatin dengan pernyataan juru bicara kepresidenan yang mengatakan bahwa kecelakaan di jalan tol akibat penutupan sementara sudah benar prosedurnya.Saya melihat juru bicara tidak menggunakan logika sebab akibat. Beliau mengatakan bahwa kejadian terjadi sebelum iring-iringan kepresidenan lewat, sementara beliau pun mengatakan bahwa prosedurnya adalah menutup jalan 10 menit sebelum iring-iringan lewat.Artinya kecelakaan itu terjadi saat penutupan sebelum iring-iringan lewat kan? Bukan saat iring-iringan lewat. Kecelakaan tersebut menurut beberapa saksi diakibatkan penghentian mobil di jalan tol yang dalam kecepatan tinggi (minimum 60 km/jam).Prosedur penghentian kendaraan di jalan tol sangatlah berbeda dengan penghentian di jalan biasa/protokol. Kendaraan melaju cukup kencang dan JELAS TIDAK mungkin menghentikan kendaraan tersebut hanya dengan cara menutup di ujung jalan penghentian.Seperti kita tahu, pihak jalan tol jika melakukan penghentian atau pengerucutan jalan saja mereka harus melakukan "decreasing phase" atau fase pelambatan mobil sekitar 500m sebelum penyempitan jalan. Baik dengan tanda hazard atau dengan cone pemberitahuan.Saat itu pengendara akan ambil ancang-ancang dengan mengurangi kecepatan kendaraannya. Apalagi untuk kejadian "pemberhentian" sementara, tentu pemberitahuan pengurangan kecepatan bisa sekitar 1 km sebelum titik pemberhentian, mengingat kendaraan di depannya BERHENTI, bukan jalan melambat/mengantre.Metode ini jelas dipahami oleh pihak pengelola jalan TOL. Kesalahan ini jelas bukan di pihak pengendara atau pengguna jalan tol. Apalagi dengan mengkambinghitamkan pengemudi BUS GARUDA yang dibilang lalai karena ngantuk.Bus membutuhkan jeda waktu pengereman yang tidak sama dengan mobil biasa. Momentum bus sangat besar. Kecelakaan ini mungkin bisa menjadi pelajaran atas metode atau cara mengalihkan laju kendaraan. Pemerintah lewat juru bicara kepresidenan harusnya lebih bijaksana melihat kejadian ini sebagai BUKTI KECERDASAN MENGANALISA dan JIWA BESAR sebagai cerminan pemimpin negara.Bukan dengan mengalihkan kebodohan dan keteledoran dengan hanya menyatakan HUMAN ERROR di pihak korban. Pikirkan kembali, sekelompok keluarga yang pergi dengan rasa riang untuk liburan Lebaran ternyata pulang dengan rasa duka mendalam hanya karena sebuah kesalahan "cara".Semoga kejadian ini bisa menjadi pelajaran bagi semua pihak. Ya Allah semoga semua korban mendapatkan sisi mulia di hadapanMU."Abubakar Sidick Nt dalam surat elektroniknya menyebutkan: "Penjelasan Jubir Kepresidenan Andi Malaranggeng mengenai kecelakaan jalan Tol kami nilai terlalu dini dan sepihak karena langsung menyalahkan sopir bus Garuda.Saya lebih percaya pernyataan seorang ibu penumpang kendaraan yang terlibat kecelakaan tersebut (disiarkan oleh SCTV) yang menunjuk Polisi yang menghentikan secara mendadak lalu lintas di jalan tol sebagai penyebab kecelakaan maut tersebut.Kami sering mengalami penghentian mendadak oleh polisi di jalan protokol berkaitan dengan akan lewatnya konvoi kendaraan Presiden, padahal konvoi tersebut baru akan lewat 5-10 menit kemudian.Kalau di jalan protokol di dalam kota mungkin masih dapat dimaklumi, namun tidak di jalan tol Jagorawi. Sebaiknya Paspampres, Patwal (Polisi) kembali mengevaluasi kembali protap konvoi kendaraan Presiden/Wapres, utamanya di jalan tol. Janganlah berpegang pada motto: police can do no wrong."Icuk warga Cimanggis dalam surat elektroniknya menyebutkan: "Berhubung saya nggak tahu emailnya bung Andi, saya ingin minta tolong redaksi mudah-mudahan berkenan untuk meneruskan ke yang bersangkutan.Bung Andi, sebelumnya perkenalkan nama saya Icuk, tinggal di Cimanggis, rakyat biasa. Selama ini saya bukan pembenci/penentang Anda, tapi juga bukan pengagum Anda. Ya biasa-biasa saja lah.Oleh karenanya begitu Anda menjadi juru bicara Pak SBY, saya ya juga biasa biasa aja. Cuman bisa berkomentar "hmm...naek pangkat juga nih, dari komentator, jadi jubir presiden.Tapi begitu kejadian tabrakan di tol Jagorawi hari ini, kemudian Anda menyampaikan apa yang Anda sampaikan, kembali saya kecewa.Kecewa karena sekali lagi terjadi bahwa seseorang yang selama ini tampaknya cerdas, teliti, kritis dan kepedulian sosialnya tinggi (bukan cuma Anda), ketika masuk ke lingkaran pemerintahan/kekuasaan, maka seketika dia berubah menjadi "bodoh", mudah menyalahkan orang lain (baca: rakyat) dan self defense mechanism-nya langsung memuncak.Misalnya ketika ada sekelompok anggota polisi diberitakan berkelahi atau berjudi atau mabok atau apalah....beberapa jam kemudian sang kepala polisi sudah ngomong "Tidak ada keterlibatan anggota saya. Titik". Padahal diselidiki aja juga belum.....Ada berita tentara memeras pengusaha, lantas saja sang Panglima ngomong ke pers "Tidak ada satupun anggota saya terlibat". Padahal persoalannya apa juga belum jelas.Ada berita staf Departemen terlibat korupsi, beberapa menit kemudian sang menteri langsung mendengus "aahhh....tidak ada itu....bohong...saya sudah cek ke staf saya..."Nah sekarang giliran Anda. Belum juga penyelidikan kejadian tuntas, Anda sudah menyalahkan rakyat kecil.Bukan apa-apa bung, saya sih curiganya ini kesalahan polisi, karena baru Lebaran lalu punya pengalaman yg nyaris serupa. Kalau dipikir-pikir rasanya polisi itu semakin lama bukan semakin baik tapi semakin....aaahhh...nggak sanggup saya ngomongnya, saking prihatinnya.Pada sore hari Lebaran yang lalu, adik saya pulang dari Bandung, di Puncak nabrak mobil orang. Karena di dekat Puncak Pass, passssss di tikungan yg sangat tajam, ada Polisi "jenius" menghentikan arus lalu lintas HANYA DEMI Kapolda (Jawa Barat?) mau lewat."Jenius"nya itu sang polisi nyetopnya itu pas di tikungan tajam. Apa itu namanya profesional? Apa itu namanya sesuai protap? Saya yang bukan polisi aja ngerti bung bahayanya berhenti pas di tikungan tajam...Ini kejadian demi Allah nyata. Kalau nggak percaya, saya bisa antar melihat Kijang Innova baru yg pecah lampunya yg belum sempet dibenahi (karena asuransi masih tutup karena Lebaran). Jadi bung Andi, tolong sadarlah...."Arifin dalam surat elektroniknya menyebutkan: "Tanpa mengesampingkan asas praduga tak bersalah, seyogyanya Jubir Kepresidenan berbicara secara lebih hati hati."Bambang T dalam surat elektroniknya menyebutkan: "Buat bung Andi Malaranggeng, kalau belum mengerti permasalahan jangan komentar dulu."Supriyadi dalam surat elektroniknya menyebutkan: "Komentar Bung Andi yang membuat klarifikasi tak lama setelah kejadian yang langsung menyalahkan sopir bus Garuda, membuat saya meragukan kapabilitas dan kredibilitas intelektual Bung Andi. Sebab ini masalah nyawa manusia."Wakil Ketua DPR Zaenal Ma'arif dalam wawancaranya dengan detikcom kemarin juga mengkritik Andi. Berikut pernyataannya: "Kesimpulan yang disampaikan Andi bahwa penyebab kecelakaan itu adalah sopir bus Garuda terlalu dini.Bagaimana dia bisa menyimpulkan hal itu, sedang penyelidikan masih dilakukan. Jangan begitulah, itu terlalu dini. Lagi pula ini persoalan kecelakaan lalu lintas, harusnya Kapolri atau Kapolda yang bicara, bukan jubir presiden. Kesannya kok malah defensif begitu.Ke depan, fasilitas pengawalan harus dibatasi. Pengawalan harus diberikan hanya untuk orang dan kesempatan tertentu. Jadi tidak semua menteri atau pejabat negara memperoleh fasilitas pengawalan. Jangan menakut-nakuti rakyat dengan suara sirene setiap hari di jalan.Kecelakaan yang terjadi di Jalan tol Jagorawi tidak terjadi begitu saja. Kecelakaan itu juga mungkin disebabkan kelalaian petugas Patwal dalam menjalan protap.Protap itu sudah lama ada. Mengapa pada peristiwa tersebut sepertinya ada penyetopan mendadak. Jadi menurut saya, peristiwa tersebut juga disebabkan ada kesalahan penerapan protap di lapangan.Saya menuntut adanya penyelidikan yang menyeluruh mengenai peristiwa ini. Hal ini penting agar kejadian serupa tidak terulang di masa datang. Jangan hanya periksa para pengemudi. Periksa juga polisi yang bertugas."
(sss/)











































