Presiden Asosiasi Toilet Indonesia Naning Adiwoso juga membandingkan dengan kota-kota besar di wilayah Asia Tenggara, bahwa Jakarta jauh tertinggal dari Manila, Bangkok, hingga Kualalumpur.
Menurutnya, permukiman rumah di kota-kota tersebut memiliki sistem sanitasi menyeluruh dengan instalasi pengelolaan air limbah yang baik. Dalam ukuran negara, Indonesia unggul dari Laos dan Timor Leste namun kalah dari Kamboja dalam pengelolaan sanitasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia menegaskan perlu waktu lama untuk membenahi sistem sanitasi di Jakarta. Bahkan, masih sulit kalau persoalan permukiman padat akibat urbanisasi tidak berkurang. Selama ini, sistem sanitasi sudah terlanjur "rusak" dan salah. Tapi, tetap dibiarkan dan semakin melebar salah satunya karena warga tidak tahu menerapkan sistem sanitasi yang baik.
Misalnya, penempatan dan standar pembangunan septic tank yang belum memenuhi syarat aturan. “Harus ada parameter bikin septic tank yang benar bagaimana. Desain benar, parameter benar diikutin warga. Ini sudah salah. Penempatan setic tank ngaco,” ujarnya.
Naning menambahkan harus ada komitmen dari pemerintah bila ingin membenahi sistem sanitasi Jakarta yang sudah terlanjur parah. Sekadar contoh, ia menjelaskan seperti penempatan toilet umum yang bersih dan nyaman.
Selama ini, Jakarta hanya mengandalkan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang punya fasilitas toilet. "Tanpa SPBU, bisa dibayangkan sulitnya warga mencari toilet bersih," tegasnya.
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) juga mencatat buruknya sistem pelayanan pengelolaan limbah di Jakarta. Direktur Perumahan dan Pemukiman Bappenas Tri Nugroho Utomo mengatakan sistem sanitasi di Jakarta sebagai ibu kota negara seharusnya sejajar dengan kota seperti Kualalumpur, Malaysia atau Manila, Filipina.
Tapi kenyataannya, Jakarta masih tertinggal dibandingkan kota-kota lain di dalam negeri seperti Denpasar, Banjarmasin, dan Solo. “Jakarta masuk 11 kota yang punya IPAL (instalasi pengelolaan air limbah). Tapi, masih rendah karena tidak menyeluruh dan belum ideal,” kata Nugroho ketika ditemui detikcom, Senin (11/11).
(brn/brn)










































