Akhir Perjalanan Arafat Nan Megah
Sabtu, 13 Nov 2004 00:05 WIB
Jakarta - Kemashyuran Yasser Arafat terasa kental mengiringi akhir perjalanan hidupnya. Kini pejuang kemerdekaan Palestina itu sudah terbaring diam dengan tenang.Begitu menghembuskan nafas terakhirnya pada 11 November 2004, Presiden Prancis Jacques Chirac menyampaikan penghormatan terakhir di RS Militer Percy, Clamart, Prancis tempat Arafat dirawat dan meregang nyawa.Sebuah acara pelepasan jenazah ala militer pun dipersembahkan Pemerintahan Prancis saat jasad Arafat diberangkatkan dari Pangkalan Militer Villacoublay dengan menggunakan pesawat militer Prancis A-139 menuju Kairo, Mesir.Mesir dijadikan tempat penghormatan terakhir Arafat, pria kelahiran Mesir 75 tahun lalu itu, karena pendudukan Israel akan membuat sulit para pemimpin negara asing untuk datang ke Palestina. Karena itu, pemerintah Mesir menawarkan agar Arafat dilakukan penghormatan terakhir di Kairo.Megah. Itulah janji Pemerintah Mesir saat mempersiapkan upacara penghormatan terakhir bagi Arafat. Begitu jasad Arafat tiba di Bandara Internasional Kairo, Mesir dari Prancis, janji itu tidak mengada-ada.Gelar pasukan besar-besaran ala militer dilakukan Pemerintah Mesir. Sebuah upacara nan megah dan khidmat dilakukan di markas militer di pinggiran Kairo.Tidak tanggung-tanggung, sekitar 50 pejabat penting negara asing menghadiri upacara penghormatan tersebut. Ada 16 kepala negara dan kepala pemerintahan di antaranya yang langsung mengikuti upacara.Sebagian besar adalah kepala negara dan kepala pemerintahan dari negara-negara Arab dan negara-negara Muslim yang bersimpati kepada nasib Palestina. Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono juga ikut hadir.Ketokohan dan kemashyuran Arafat yang besar dan meluas di jagad bumi ini pun terasa kental dalam upacara penghormatan terakhirnya. Usai upacara, jasad Arafat pun diberangkatkan dengan helikopter menuju Kota Ramallah, Tepi Barat.Setibanya di Ramallah, suasana penuh emosional menyentak. Dunia pun merinding menyaksikan betapa histerisnya lautan warga Palestina menyambut pahlawannya yang tak bisa lagi dipandang. Hanya sebuah peti berselimutkan bendera kebangsaan berwarna merah, putih, hijau, dan hitam.Saking histerisnya, petugas keamanan dan militer Palestina kesulitan mengeluarkan peti Arafat dari helikopter. Luapan tangis, jeritan, dan rentetan tembakan senjata ke udara membuat suasana kian riuh. Semua warga berebutan memegang peti Arafat sebagai ungkapan rasa cinta.Tidak dapat dipungkiri, justru inilah klimaks kemegahan dari akhir perjalanan Arafat. Bukan dengan upacara besar ala militer, bukan pula dengan kehadiran orang-orang besar dari berbagai belahan dunia ini.Melainkan lautan air mata dan jamahan tangan warga Palestina yang mengiringi akhir perjalanan Arafat hingga ke pembaringan terakhir di markasnya Muqata, Kota Ramallah, Tepi Barat. Sebuah bangunan yang dijadikan simbol perlawanan terhadap Israel.Selamat beristirahat dengan tenang Mr Arafat...
(sss/)











































