Rumah susun sederhana sewa Tambora terbagi menjadi empat bagian. Berbeda dengan Tambora I dan Tambora II yang telah rata dengan tanah, Tambora III dan IV bangunannya masih terlihat kokoh sebab memiliki usia yang jauh lebih muda dibanding Tambora I dan II.
Beberapa alat bangunan atau material seperti puluhan sak semen dan pipa terlihat di lantai dasar. Rusun ini sedang dalam perbaikan sebab beberapa atap ada yang bocor bila hujan.
Unit Rusunawa Tambora memiliki ukuran 4,5 X 5 meter dengan dilengkapi sebuah kamar di dalamnya. Sujono (42) salah satu warga menyebutkan tinggal di Rusunawa Tambora menjadi layak bagi orang yang memiliki tingkat ekonomi rendah seperti dirinya.

"Untuk orang miskin ya layak, tapi kalau orang kaya atau orang mampu gak layak," tutur Sujono ketika ditemui detikcom, Sabtu (09/10).
Warga yang menghuni lantai 4 Blok B Tambora IV ini mengungkapkan biaya sewa yang murah karena mendapat subsidi dari pemerintah menjadi alasannya tinggal di tempat ini dan tidak memikirkan enak atau tidak.
"Bukan masalah nyaman atau tidak, ya pasti gak nyamanlah, tapi kan di sini sewanya murah, Rp 150 ribuan kalau gak salah, istri saya yang selalu membayarkan," Katanya.
Serupa dengan Sujono, Heri (35) juga mengaku tidak memikirkan soal kenyamanan lagi. Baginya yang terpenting biaya sewanya murah. "Nyaman gak nyaman sih, kita kan karena sewanya murah, dapat subsidi dari pemerintah," ujar warga lantai 4 Blok A ini.
Dinas Perumahan dan Gedung DKI Jakarta mengklaim hampir tidak ada lagi rumah susun yang tidak layak huni di ibu kota. Jakarta sendiri memiliki sekitar 99 blok dengan total 9.829 unit rumah susun yang telah dibangun.
Kepala Seksi Perencanaan Perumahan Dinas Perumahan DKI, Romel Pasaribu, mengatakan rumah susun sederhana sewa Marunda merupakan rusun terakhir yang masuk kategori tidak layak.
"Yang tidak layak itu sekarang sebenarnya sudah hampir tidak ada lagi, cuma Marunda ya, Marunda kan tadinya tidak layak tapi kita sudah lakukan perbaikan, hampir tidak ada lagi yang tidak layak," kata Bomer saat ditemui detikcom, Kamis (07/10).
(brn/erd)











































