Meski Tak Layak, Warga Jakarta Terpaksa Tinggal di Rusun

Permukiman Layak di Jakarta, Mungkinkah?

Meski Tak Layak, Warga Jakarta Terpaksa Tinggal di Rusun

Idham Khalid - detikNews
Senin, 11 Nov 2013 11:49 WIB
Meski Tak Layak, Warga Jakarta Terpaksa Tinggal di Rusun
Suasana di salah satu rumah susun di Jakarta. (Foto - detikcom)
Jakarta -

Rumah susun Tanah Tinggi, Jakarta Pusat terlihat semrawut. Pakaian bergantungan tidak teratur, serta beberapa genteng yang bolong merupakan pemandangan nyata. Sistem ventilasi juga tak bagus.

Ada lima blok di rumah susun ini, dengan 22 kamar setiap lantainya. Setiap kamar berukuran 2x3 meter dengan jendela yang hanya ada di bagian depan. Pertukaran udara sangat minim karena dinding belakang kamar langsung beradu dengan tembok unit rumah susun lainnya.

Minimnya ventilasi menyebabkan sirkulasi udara tak berjalan maksimal sehingga suhu di dalam kamar sangat panas. "Kalau malam saat tidur sering saya buka aja pintu karena hawanya sangat panas," kata Wastam, seorang penghuni lantai dasar blok II kepada detikcom, Sabtu (9/11) pekan lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



Bagi pria berusia 65 tahun ini, soal nyaman atau tidak nyaman, layak ataupun tidak, tak lagi dipikirkan. Sebab yang terpenting baginya adalah memiliki tempat tinggal meskipun hanya di rusun.

"Nyaman gak nyaman sih tidak ada pilihan lagi, apalagi kalau mati lampu, pengap banget," kata pria yang sejak tahun 1995 menghuni Rumah Susun Tanah Tinggi ini.

Hal sama dikatakan penghuni lainnya Mulyadi, 40 tahun. Bahkan saat awal menghuni rusun pertama kali pada tahun 1994 dia mengaku tidak betah. Namun karena tak ada pilihan lain, terpaksa dia paksakan untuk betah.

"Layak gak layak sih. Awalnya gak betah, karena udah lama ya biasa," kata ayah tiga anak ini kepada detikcom.

Hanya pria yang sehari - hari bekerja sebagai supir alat berat ini mengakui tinggal di rusun lebih aman dari ancaman kebakaran. Pasalnya setiap lantai dilengkapi dengan pipa air yang akan secara otomatis mengeluarkan air jika ada suhu panas.

"Jadi kalau ada kebakaran, air pipa langsung keluar otomatis, karena kalau kena hawa panas langsung keluar airnya. Seperti di Mall gitu," kata warga yang menghuni lantai 4 blok I itu.

Pria yang akrab disapa Yadi ini mengatakan, sekitar 6 bulan lalu pengelola pernah melakukan perbaikan rumah susun. Saat itu warga mengajukan perbaikan karena ada atap yang bocor dan warna gedung yang sudah usang.

"Pernah perbaikan, atap, cat. sekitar 6 bulan yang lalu," kata Yadi. Kini cat dinding rumah susun yang terletak di Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat itu memang tampak lebih rapi. Rumah susun yang dulunya berwarna putih dan kusam kini lebih berwarna dengan cat warna hijau, biru dan abu–abu.

Pengamat perkotaan dari Universitas Trisakti Yayat Supriyatna mengatakan di Jakarta saat ini banyak lingkungan permukiman yang tidak layak. Banyak rumah susun yang kini dibangun tidak sesuai dengan pola kehidupan masyarakat Jakarta.

“Blok-blok rusunawa tidak kunjung tumbuh menjadi permukiman yang berkelanjutan,” kata Yayat dalam sebuah acara diskusi 'The Indonesia Forum' di Jakarta Kamis pekan lalu.

(erd/brn)


Berita Terkait