"Personal branding bukan pencitraan tetapi bahasa tubuh yang dimiliki oleh seseorang dengan menggali kepribadiannya sendiri yang kemudian dipoles dalam wujud bahasa tubuh," kata Staf Khusus SBY Bidang Hubungan Luar Negeri, TB Silalahi dalam keterangannya kepada detikcom, Minggu (10/11/2013).
Hal itu diungkapkan kembali mantan anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres) ini terkait pernyataannya dalam Diskusi dan Bedah Buku "Gus Dur Ku, Anda, Kita" karya Mohammad AS Hikam di Bentara Budaya, Palmerah, Jakarta Barat pekan lalu. Di mana bahasa tubuh SBY yang diungkapkannya itu dikritisi sejumlah kalangan dengan menyebutkan sebuah pencitraan belaka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut TB Silalahi, guna mencerminkan kepribadian yang bersih, cerdas dan santun ke dalam bahasa tubuh, ada sekolah ataupun pelatihan khusus untuk itu yaitu yang disebut dengan personal branding. Sebagai contoh di Jakarta ada sekolah yang disebut John Robert Powers, yang biasa dilakukan para pemimpin dari berbagai bidang, misalnya manajer, pemimpin organisasi, politikus, sampai pimpinan negara dan dilakukan di seluruh negara maju.
Ia mencontohkan, Margareth Thatcher sebelum menjadi perdana menteri, mengikuti pelatihan seperti itu. Pribadi Margareth Thatcher sangat bagus, kokoh, dan salah satu perdana menteri Inggris yang terbaik. Padahal sebelumnya, gerakan tubuh Margareth Thatcher tidak menarik, suaranya cempreng, sehingga sulit dimengerti, kadang-kadang gerakan tangannya pun tidak cocok dengan apa yang diomongkannya.
Lalu dengan personal branding, Margareth Thatcher merubah gaya penampilannya yang lebih menarik, seperti pakaian dan cara berbicaranya yang jauh lebih menarik. Soal SBY, TB Silalahi mengakui sudah mengenal gayanya sejak di taruna AKABRI memang cerdas, bersih dan santun. Tak heran bila dengan kepribadiannya itu, SBY menjadi lulusan AKABRI terbaik dengan anugerah Adhi Makayasa.
"Sebenarnya sejak dulu pun bahasa tubuhnya sudah bagus, tetapi masih tingkat taruna dan perwira TNI. Tetapi, karena dia menjadi Capres 2004, bahasa tubuhnya harus disempurnakan, karena akan menjadi pemimpin negara dan bangsa yang besar, serta bisa menjadi pemimpin internasional seperti APEC,β urainya.
Oleh sebab itu bahasa tubuhnya pun harus disesuaikan dengan lingkungan nasional maupun internasional yang akan dihadapi kemudian. "Itulah sebabnya, sebagai calon presiden yang tentu bukan menggunakan uang negara, kami mendatangkan guru dari Inggris," terangnya.
Kembali TB Silalahi menegaskan, bahasa tubuh SBY sekarang ini bukan dibuat-buat tetapi sudah dari alamiah dan bukan semata mata sebagai pencitraan. Pelatihan ini tidak perlu dirahasiakan, karena itu merupakan bagian dari pendidikan maupun pelatihan.
"Malahan saya sarankan semua calon presiden mengikuti pelatihan seperti itu yang pada acara itu saya tawarkan kepada sahabat saya Mahfud MD yang berada di dekat saya saat itu," pungkasnya.
(zal/jor)











































