Kala itu sebelum berangkat mengantar logistik ke perbatasan Indonesia-Malaysia, Kapten Pilot Heli MI-17 Lettu Cpn Agung Budiarjo sempat pulang ke rumah orang tuanya di Jakarta Timur. Agung sendiri merupakan anggota TNI AD yang berdinas di Lampung. Sebagai seorang pilot pesawat, ia tidak pernah menetap lama tinggal di rumah.
"Selesai resepsi mereka masih tinggal di sini, di rumah orang tua almarhum. Namanya pilot jarang tinggal lama karena harus dinas pergi kemana-mana," ujar paman almarhum dari keluarga istri, Umar Sahid kepada detikcom, Minggu (10/11/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nggak lama dari Lampung, harus berangkat tugas ke perbatasan untuk bangun pos perbatasan," tuturnya.
3 Hari kemudian yaitu Sabtu (9/11) sekitar pukul 09.00 WIta, pesawat yang dibawanya oleng dan terjatuh di perbatasan Indonesia-Malaysia tepatnya di Malinau, Kalimantan Utara. Saat peristiwa tersebut sang istri tengah mengantarkan ibu almarhum ke Polres Bekasi Kota. Sang ibu yang diketahui bernama Kompol Kusmiyati merupakan Kepala Bagian Sumber Daya di Polres Bekasi Kota.
"Sekitar pukul 13.00 WIB siang, Riski dapat telepon dari tim evakuasi TNI AD disana, kalau pesawat suaminya terjatuh," ungkapnya.
Sontak jerit histeris memecah suasana hening di rumah tersebut. Riski hanya bisa duduk bersimpuh, seakan tidak percaya akan kabar buruk yang diterimanya. Sambil berusaha menenangkan diri, ia pun menghubungi ibu mertuanya.
"Ibu-ibu cepat pulang, pesawat mas Agung jatuh," ujar Umar menirukan teriakan Rizki.
Mendengar kabar duka tersebut, ibu almarhum yang tengah menggelar rapat langsung meminta izin untuk pulang. Terlihat raut kesedihan yang mendalam dan kepanikan luar biasa di wajah Kusmiyati. Diantar rekan kerja, ia langsung bergegas pulang ke rumahnya.
"Sekitar pukul 21.00 WIB, atasan almarhum datang menyampaikan kabar secara resmi. Komandannya ini juga baru saja dari Semarang untuk menyampaikan kabar duka ke keluarga korban yang lain," ungkapnya.
Selaku pimpinan yang bertanggung jawab, atasan kapten pilot MI-17 Lettu Cpn Agung Budiarjo mengajak keluarga almarhum berserta istri untuk mengikuti proses penyerahan keluarga secara militer di Tarakan, Kalimantan Utara. Bersama keluarga korban yang lain, mereka naik pesawat Hercules dari Bandara Militer Halim Perdana Kusuma.
(edo/kff)











































