Tak Terukur Tak Mematikan

Munir Diracun

Tak Terukur Tak Mematikan

- detikNews
Jumat, 12 Nov 2004 16:19 WIB
Den Haag - Masuknya arsenicum ke dalam tubuh dengan dosis mematikan jarang terjadi tanpa direncanakan alias memang diracun. Gejala yang ditunjukkan Munir mengarah ke hal itu.Zat arsenicum (As) sesungguhnya adalah bagian alamiah lapisan kerak bumi. Ketinggian kadarnya dalam tanah berbeda antara satu tempat dan tempat lainnya. Namun jika diperkirakan rata-rata antara 1,4 mg sampai 620 mg per Kg tanah kering. Jenisnya yang paling beracun adalah senyawa arsenicum anorganik, baik yang larut maupun tidak atau sukar larut dalam air. Dengan demikian arsenicum bisa saja terserap dalam sayur maupun buah atau bahkan dalam air tanah yang diminum. Namun dalam dosis sangat kecil dampaknya bisa diabaikan. Sebab prinsipnya, semua zat baru berefek racun (merusak) jika kehadirannya dalam tubuh dosisnya berlebihan. Dosis sola facit venenum (hanya jumlah yang membuat keracunan).Pada Munir, menurut cerita sumber detikcom di KBRI Den Haag 7/9/2004 lalu, menunjukkan gejala-gejala keracunan arsenicum dengan dosis terukur dan mematikan. Gejala yang ditunjukkan antara lain: Munir mengalami muntah-muntah, haus luarbiasa namun hanya bisa minum sedikit-sedikit, banyak mengeluarkan air liur dan gelisah. "Dia sangat gelisah. Setelah diberi obat dokter di pesawat dia baru terlihat tenang. Orang menyangka keadaan dia telah membaik. Ternyata dia ditemukan telah meninggal dua jam sebelum mendarat di Schiphol," katanya.Selain itu menurut sumber, Munir terlihat bolak-balik ke toilet pesawat. Perilaku Munir ini menunjukkan tanda-tanda lainnya akibat keracunan arsenicum secara akut, yakni kejang-kejang perut, merasakan sakit seperti diiris-iris atau rasa terbakar di bagian perut dan diare disertai darah. Dia merasa tidak beres dengan perutnya dan harus sering sering ke toilet, sebelum akhirnya menjadi 'tenang' untuk selama-lamanya.Nah, pada keracunan arsenicum yang kronis, misalnya karena mengkonsumsi sayur atau meminum air yang tercemar dalam jangka waktu lama, gejalanya berbeda dengan yang dialami Munir. Korban keracunan arsenicum kronis umumnya akan menunjukkan gejala kurang nafsu makan, berat badan turun, gangguan pencernaan disertai diare, obstipasi, sampai terjadi perubahan warna kulit. Bahkan bisa mengalami gangguan kesuburan, keguguran, dan produksi ASI merosot.Selain itu korban juga berisiko kena kanker, sebab arsenicum di dalam tubuh diubah menjadi arsenat yang mengambil alih tempat kelompok fosfat dalam DNA. Proses ini menyebabkan kesalahan dalam pembelahan sel, sehingga terbentuk kanker.Jika keracunan arsenicum melalui menghirup (inhalasi) udara yang tercemar, biasanya akan mengakibatkan ketidakmampuan ginjal membentuk urin, darah dalam urin, dan kadar ureum dalam darah meningkat. Setelah beberapa hari korban bisa meninggal karena gangguan peredaran darah atau jantungnya berhenti.Jadi, lepas dari soal etika, patut diduga Munir meninggal karena diracun. Dampak keracunannya menunjukkan bahwa dosis arsenicum-nya terukur dan bukan secara kebetulan. Indikasi kuat Munir diracun tersebut yang perlu menjadi perhatian, demi hak dan rasa keadilan istri dan keluarganya yang telah dipaksa berpisah darinya. Dan langkah Polri yang langsung menindaklanjuti dengan membentuk tim investigasi patut dihargai. (es/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads