Kedekatan Arafat dengan Kairo

Kedekatan Arafat dengan Kairo

- detikNews
Jumat, 12 Nov 2004 15:25 WIB
Jakarta - Yasser Arafat memiliki kedekatan khusus dengan Kairo, Mesir, Di kota itulah pemimpin Palestina itu dilahirkan. Di sana pula ia menempuh studinya dan mengawali aktivitas politiknya.Juga di sanalah prosesi pemakamannya akan digelar secara militer pada Jumat ini. Meskipun nantinya ikon perjuangan Palestina itu akan dikuburkan di Tepi Barat."Dia orang yang hebat dan seorang pahlawan. Kami semua dan seluruh warga Mesir harus bangga akan dia," ujar Hag Hassanian, pemilik kedai kopi di kawasan kelas menengah di Kairo, tempat Arafat dilahirkan."Saya selalu berharap bahwa dia suatu hari akan muncul di sini, sehingga saya bisa memberi penghormatan padanya," imbuhnya seperti dilansir kantor berita Associated Press.Pemerintah Mesir bersedia untuk menjadi tuan rumah prosesi pemakaman Arafat karena secara politik, akan sulit bagi pemimpin-pemimpin Arab untuk pergi ke wilayah Palestina yang dikuasai Israel guna menghadiri seremoni tersebut.Menurut catatan Mesir, Arafat lahir pada 24 Agustus 1929 dari seorang ayah warga Palestina yang mengelola bisnis kecil di Sakakini, Kairo. Arafat bersekolah di Kairo dan meraih gelar sarjana tekniknya di Universitas Fouad I di Kairo, sekarang menjadi Universitas Kairo.Di kampus itulah, Arafat pertama kali aktif secara politik. Ia bergabung dengan Liga Mahasiswa Palestina yang menyalurkan uang dan senjata ke warga Palestina di Gaza yang berjuang melawan negara Israel yang baru didirikan.Beberapa mahasiswa di universitas tersebut mengaku sangat kehilangan atas meninggalnya Arafat di rumah sakit militer Prancis, Kamis (11/11/2004) lalu. "Saya hanya punya satu gambaran dalam pikiran saya mengenai Palestina, dan itu adalah Arafat," tutur seorang mahasiswa, Ahmed Taher.Pada tahun 1968, Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser membantu Arafat untuk memegang kepemimpinan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), satu kelompok yang didirikan dengan bantuan Liga Arab yang berbasis di Kairo guna mewakili rakyat Palestina.Menurut Samir Ghattas, seorang penulis Mesir yang meliput PLO selama lebih dari 30 tahun, hubungan Arafat dengan Mesir mendorong negara-negara Arab lainnya untuk mengenal pemimpin legendaris itu. "Nasser membantu dia untuk menjadi pemimpin yang tak terbantahkan dari seluruh rakyat Palestina," katanya.Namun hubungan Arafat sempat pecah dengan Mesir ketika Presiden Anwar Sadat menandatangani perjanjian damai dengan Israel pada tahun 1979. Arafat pun memimpin kampanye yang sukses untuk mengusir Mesir dari Liga Arab.Arafat kemudian melakukan rekonsiliasi dengan pemerintah Mesir saat Presiden Hosni Mubarak -- pengganti Sadat -- berkuasa. Meski banyak warga Mesir yang mengaguminya, ada ula yang mengecam Arafat, terutama cara dia memimpin Otoritas Palestina."Arafat adalah diktator. Dia ingin menjadi pemimpin yang kekal dan rakyat Palestina sekarang harus menanggung akibatnya," tulis Anwar al-Hawari, pemimpin redaksi surat kabar Mesir, Al-Misri Al-Youm. "Arafat merupakan simbol tirani Arab," imbuhnya. (ita/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads