Menteri Luar Negeri Indonesia, Marty M Natalegawa dalam laporannya di saat pembukaan menyatakan bahwa BDF tetap relevan dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam pembangunan arsitektur demokrasi wilayah Asia Pasifik. Inilah sebuah forum untuk tukar menukar pengalaman dan best practices yang pas untuk pengembangan nilai-nilai demokrasi.
Apa yang disampaikan Menlu tidaklah berlebihan. Setidaknya, kegiatan yang dilaksanakan di Nusa Dua Bali ini diikuti oleh wakil-wakil dari 86 negara dan 6 organisasi internasional. Ini berarti, BDF VI diikuti hampir separuh dari negara-negara yang ada di dunia. Sebab sampai saat ini, PBB mengakui 192 negara dari 193 negara yang terdaftar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Disamping para pejabat, banyak pihak yang tertarik mendiskusikan demokrasi juga hadir ke Bali. Sebanyak 28 warga Myanmar misalnya, ikut serta dalam perhelatan kali ini. Belum lagi kalau ditambah tamu yang datang dari seantero nusantara. Hall pertemuan di BNDCC Bali terasa sesak oleh para tamu BDF VI.
Diluar peserta, jumlah kuli tinta juga berjibun. Dalam catatan panitia, sebanyak 83 media nasional yang berasal dari cetak, eletronik hingga situs mengirimkan reporternya. Dari manca negara, hadir lebih dari 40 media asing. Kepada mereka ini difasilitasi ruang press yang dilengkapi dengan komputer, jaringan internet anti lelet dan teve monitor persidangan. Mereka cukup duduk di depan komputer sambil mengikuti sidang yang dilaksanakan di ruang lainnya.
Disela-sela pertemuan untuk BDF, banyak pejabat yang memanfaatkan kesempatan ini untuk melakukan kegiatan pertemuan bilateral serta kegiatan sosial. Semua dioptimalkan agar kegiatan BDF lebih banyak memberikan manfaat bagi semua pihak.
(rmd/rmd)











































