Pakar: Munir Diracun atau Tidak, Perlu Penyelidikan Lebih Lanjut
Jumat, 12 Nov 2004 10:52 WIB
Jakarta - Benarkah pejuang HAM Munir meninggal karena diracun? Ahli forensik dr. Budi Sampurno menyatakan guna memastikan apakah Munir diracun atau tidak memerlukan penyelidikan lebih lanjut.Menurut Budi, dari hasil otopsi memang bisa diketahui penyebab kematian seseorang. "Justru guna otopsi untuk mengetahui penyebab kematian. Misal seseorang meninggal karena minum Baygon."Dalam kasus Munir, untuk mengetahui penyebab kematiannya harus ada analisis yang mensinkronkan hasil otopsi dengan hasil laboraturium. "Seperti hasil pemeriksaan atas muntahan Munir dan lain-lain," ujar Budi ketika dihubungi detikcom melalui telepon, Jumat (12/11/2004).Ketika ditanya tentang gejala yang diderita Munir sebelum meninggal, yakni muntah-muntah, diare dan bolak-balik ke toilet, Budi menyatakan itu memang sejalan dengan gejala keracunan. "Itu sejalan."Namun, hasil otopsi yang menunjukkan adanya arsenicum (As) di tubuh Munir dalam dosis mematikan, menurut Budi, tidak bisa serta merta bisa disimpulkan bahwa yang bersangkutan meninggal karena keracunan.Sebab harus diselidiki lebih lanjut di mana arsenik itu ditemukan. "Kalau di lambung, tidak berarti. Kalau ditemukan sudah diserap, dalam darah atau organ, baru berarti," ujar demikian dr. Budi Sampurno.Munir meninggal pada 7 September lalu di dalam kabin pesawat Garuda dalam perjalanan ke Belanda untuk meneruskan studi bidang hukum di Universitas Utrecht. Saat berangkat dia dalam kondisi fit, namun setelah pesawat singgah di Changi, Singapura, Munir mulai muntah-muntah. Dua jam sebelum pesawat mendarat di Schiphol, Amsterdam, Munir menghembuskan nafasnya yang terakhir.
(gtp/)











































