Memang burung tersebut bukan milik Kasjo, melainkan peliharaan di puri Gedeh atau rumah dinas Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Tapi sejak didatangkan dari Nusa Tengara Timur tahun 2002 lalu, Kasjo dan tiga rekannya yang memelihara hewan-hewan di sana dan membersihkan kandangnya dua minggu sekali.
"Dulu datang di dalam kotak. Tiga kasuari dan delapan kakaktua. Tapi ada yang minta kemudian diberikan. Sekarang tinggal satu kasuari sama tiga kakaktua," kata tukang kebun itu di Puri Gedeh, Jalan Gubernur Budiono, Semarang, Rabu (6/11/2013).
"Saya merasa kehilangan, soalnya saya yang paling ngurusin. Diberitahunya mendadak, tapi ini perintah, mau gimana lagi, ini kan perintah," imbuhnya.
Kepala BKSDA Jawa Tengah, Chrystanto, mengatakan pengambilan empat ekor burung di Puri Gedeh tersebut atas usulan Ganjar dalam rangka hari Puspa dan Satwa yang diperingati hari ini.
"Kondisi hewan di sini baik, terpelihara, dan kecukupan. Tapi lebih baik lagi dilepaskan di alam habitatnya atau diserahkan ke lembaga konservasi," pungkas Chrystanto.
Hewan yang dibawa oleh BKSDA dari rumah dinas Gubernur Jateng adalah dua ekor kakaktua Jambul Kuning, satu ekor kakaktua Jambul Jingga, dan burung Kasuari. Empat ekor burung tersebut masuk dalam kategori satwa yang dilindungi karena jumlahnya yang sedikit.
Saat proses evakuasi, tiga ekor kakaktua sempat memberontak dan bersuara keras. Mereka ditangkap menggunakan jaring dan dimasukkan ke dua kandang yang memisahkan Kakaktua Jambul Kuning dan Jingga.
Begitupun saat mengevakuasi Kasuari, burung dengan tinggi sekitar 1,5 meter tersebut awalnya dijerat tali di kaki kanannya kemudian setelah terjatuh, empat orang mengangkat ke mobil bak terbuka untuk dibawa ke lembaga konservasi.
Ganjar mengatakan, inspirasinya untuk menyerahkan hewan di rumah dinas ke BKSDA bermula saat lari pagi bersama keponakannya beberapa hari lalu. Saat itu ia mendengar suara burung yang menurutnya seperti tidak bebas dan tersiksa.
"Saya langsung bilang ke BLH, rumit tidak sih prosedurnya kalau mau melepaskan mereka ke habitatnya. Saya itu suka binatang, tapi tidak suka memenjarakannya," tandas Ganjar.
Ia pun berharap bagi siapapun termasuk kepala daerah yang merasa memiliki hewan peliharaan agar bisa merawat peliharaannya layaknya saat hidup di alam bebas. Jika tidak mampu, maka dilepas saja atau diserahkan ke lembaga konservasi.
"Ini masalah hobi, kalau mau memelihara, peliharalah seperti layaknya hidup di alam bebas," tegasnya.
Rencananya empat ekor burung tersebut akan dititipkan di lembaga Konservasi Sido Muncul di Kabupaten Semarang karena belum memungkinkan untuk melepasnya ke habitat asli di Indonesia bagian Timur.
"Akan diikutkan ke lembaga konservasi Sido Muncul, karena sudah resmi, punya tenaga ahli dan ada sumber dayanya," sambung Chrystanto.
(alg/mad)











































